Selamat Pelantikan Rektor UIN Ar-Raniry

Selamat Pelantikan Rektor UIN Ar-Raniry

Iklan

Iklan

Ikhlas Esensi Ajaran Agama

7/26/22, 11:16 WIB Last Updated 2022-07-26T04:19:44Z



WASATHA.COM -  Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan banyak pahala dan keutamaan bagi umat Islam yang melakukan amal shaleh di hari dan bulan tersebut. Amal-amal shaleh yang dilakukan pada hari dan bulan itu, lebih disukai dan dicintai Allah daripada amal yang dilakuakan pada hari dan bulan lainnya.


Maka, selagi kita masih berada di hari dan bulan mulia, marilah kita terus bersemangat melakukan ibadah dan amal shaleh sebagai realisasi keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Iman berbanding lurus dengan amal shaleh. Semakin banyak amal, itu bukti semakin kuat iman dan taqwanya. Malas beribadah dan beramal, itu tanda tipis dan lemah imannya. Tidak beribadah dan tidak beramal, tanda seseorang tidak punya iman dan taqwa.


Mari kita renungkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terdapat dalam surah Al-Bayyinah[98], ayat ke-5;


وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ (البينة [٩٨]: ٥)


“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).”  


Syaikh Muhammad bin Shalih Asy-Syawi dalam tafsirnya berjudul: “An-Nafahat Al-Makkiyah” menjelaskan ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan, agama Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu alaihi Wasalam adalah jalan yang lurus, agama yang benar di sisi Allah dan mengajarkan keikhlasan dalam beribadah.


Keikhlasan dan kemurnian dalam ibadah, dengan niat mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhkan diri dari kemusyrikan merupakan syarat diterimanya ibadah, sebagaimana hal itu juga terdapat dalam kitab-kitab sebelum Al-Qur’an.


Kata ikhlas juga disebut dalam Al-Qur’an surah Al-an’am ayat 66:


…نُّسۡقِيۡكُمۡ مِّمَّا فِىۡ بُطُوۡنِهٖ مِنۡۢ بَيۡنِ فَرۡثٍ وَّدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَآٮِٕغًا لِّلشّٰرِبِيۡنَ‏


“Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu murni antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya.”


Kata “Khalishan” disebut untuk menggambarkan susu yang murni. Susu keluar dari perut hewan, sementara di dalam perutnya juga terdapat darah dan kotoran. Namun, susu sama sekali tidak tercampur dengan kedua benda kotor tersebut.


Maka, dalam melakukan ibadah dan amal shaleh, kita perlu membersihkannya dari kekotoran-kekotoran, berupa riya, sum’ah, ujub, takabur dan sifat-sifat kotor lainnya.  Amal ibadah ikhlas adalah yang dipersembahkan semata-mata hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.


Ikhlas menduduki posisi sangat penting dalam ibadah dan amal shalih.  Seorang ahli hadits, Dr. Mahmud As-Sayyid Dawud menggambarkan, ikhlas adalah senjata bagi seorang Muslim dalam menghadapi pertempuran kehidupan dunia.


Medan tempur seorang Muslim meliputi dua hal, yakni; bertempur melawan hawa nafsunya sendiri, dan berperang setan dari golongan manusia dan jin yang selalu berusaha menghalang-halangi manusia dari mengabdi kepada Tuhannya.


Para ahli hikmah memberi nasihat yang mendalam: “Semua manusia akan binasa kecuali orang yang berilmu. Semua orang berilmu akan binasa kecuali orang yang mengamalkan ilmunya. Orang yang mengamalkan ilmunya akan binasa kecuali orang yang ikhlas.”


Ikhlas memiliki tanda-tanda yang nampak pada orang-orang yang mengerjakan ibadah dan amal shaleh, sebagaimana disebutkan para ulama, di antaranya adalah: tidak mencari popularitas, tidak berharap pujian dan sanjungan, terus bersemangat dalam beramal, sabar, tegar dan tidak suka mengeluh.


Dalam ibadah, kita dituntut untuk memperhatikan esensi, atau makna yang tersirat di dalamnya, bukan semata-mata memperhatikan zahirnya saja.  Walaupun kadang kala, perkara zahir itu penting diperhatikan, namun hakikatnya perkara batin lebih penting lagi diperhatikan agar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai dalam ibadah itu.


Jika di bulan Dzuljihhah ini, kita umat Islam sudah melakukan beberapa rangkaian ibadah, seperti haji, qurban, shalat idul adha, sedekah dan lainnya, maka saatnya sekarang kita merenungi, apa esensi dari ibadah-ibadah tersebut.


Perintah qurban dalam Al-Qur’an, surah Al-Kautsar berbarengan dengan perintah melaksanakan shalat. Kedua ibadah itu adalah perwujudan nilai ‘habluminallah dan habluminannas’ yang harus dilakukan bagi setiap Muslim.


Baiknya hubungan seseorang dengan Rabbnya, hendaknya diiringi pula dengan harmonisnya hubungan antar sesama manusia. Jika seseorang hanya melaksanakan salah satunya saja, tentu tidak akan sampai kepada kesempurnaan ibadahnya.


Pengorbanan merupakan manifestasi dari kesadaran kita sebagai makhluk sosial. Bayangkan, bila masing-masing manusia sekadar memenuhi ego dan kebutuhan sendiri tanpa peduli dengan kebutuhan orang lain, alangkah kacaunya kehidupan ini.


Sifat serakah dan ingin menang sendiri, tanpa memperdulikan orang lain, hanya layak dimiliki oleh hewan. Maka umat Islam harus mampu “menyembelih” ego kebinatangan, untuk menggapai kedekatan (taqarrub) kepada Rabbnya.


Ibadah haji, qurban dan idul Adha merupakan syiar-syiar Islam, sebagai tanda dan simbol kemuliaan, solidaritas dan kedamaian yang harus ditunjukkan kepada khalayak sebagai wujud Islam yang rahmatan lil alamin, menebar rahmat bagi seluruh alam.


Rasulullah Shallallahu alaihi Wasalam memperingatkan kepada para sahabatnya, juga kepada umat Islam semua, agar jangan terjebak kepada ibadah sebatas zahirnya saja. Ibadah yang hanya sebatas hissiyah/lahiriyah saja, tidak sampai kepada tataran maknawi dan esensinya.


Jangan sampai karena terlalu bersemangat dalam ibadah, lalu merasa paling benar pemahamannya, merasa paling rajin dalam ibadah dan merasa paling suci dan paling dekat dengan Allah sehingga mudah memvonis orang lain salah, bid’ah, sesat dan kafir.


Sosok Dzul-Khuwaisyirah, yang disebut Rasulullah Shallallahu alaihi Wasalam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad sebagai tokoh cikal-bakal Khawarij patut kita renungkan.


Meskipun shalatnya tampak lebih khusyu’ dari para sahabat lainnya, puasanya tampak lebih rajin dari para sahabat lainnya, dan baca Qur’annya tampak lebih sering dari para sahabat lainnya, namun hanya sampai di tenggorokan saja, tidak masuk dalam hati sanubarinya. Semua ibadahnya hanya sebatas fisik saja, tidak sampai pada derajat maknawinya.


Ibadah yang hanya sebatas tataran zahir saja, sama sekali tidak bermanfaat ketika hal itu tidak berpengaruh pada perubahan pola pikir dan perilaku seseorang. Kaum Khawarij terlihat rajin membaca Al-Qur’an, namun pesan-pesannya sama sekali tidak masuk dalam akal dan sanubarinya.


Mereka tidak peduli dengan pendapat orang lain yang berbeda dengannya. Puncaknya, mereka memerangi para sahabat yang berbeda pendapat dengan mereka. Khalifah Ali bin Abi Thalib yang merupakan Khulafaur Rasyidin Al-Mahdiyyin menjadi korbannya.


Betapa banyak ayat dan hadits yang menjelaskan kehormatan dan kemuliaan kaum Muslimin, tetapi dengan mudahnya mereka memeranginya.


Mereka melesat keluar menjauhi ajaran Islam seperti anak panah melesat menjauhi busurnya. Meskipun mereka sendiri secara lahiriyah adalah ahli ibadah yang sulit dicari tandingannya. Dari sinilah kemudian julukan Al-Mâriqah (kelompok yang melesat menjauh) juga disematkan kepada Khawarij.


Jika ibadah dilakukan dengan ikhlas dan cara yang benar sesuai tuntunan syariah, maka akan memiliki pengaruh dalam diri seorang muslim, diantaranya:


Pertama, ibadah bisa menguatkan hubungan seorang dengan Allah Ta’ala, Rabbnya yang telah memerintahkan dia beribadah.


Kedua, ibadah bisa melahirkan ketenteraman hati. Sebab setelah menunaikannya, ia akan merasakan bahwa dia telah menaati penciptanya.


Ketiga, ibadah membentuk akhlak mulia seseorang, antara lain, tawâdhu’, khusyû’, menjaga ukhuwwah dan menjauhi perkara keji dan munkar.


Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menguatkan kita semua agar senantiasa ikhlas dalam beribadah dan mampu menyelami esensi dari ibadah itu sehingga tercermin dalam akidah dan akhlak kita sehari-hari.  [mina]


Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Ikhlas Esensi Ajaran Agama

Terkini

Topik Populer

Iklan