Setiap 2 Mei, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sebagai momentum refleksi terhadap peran pendidikan dalam membangun bangsa. Namun di Aceh, peringatan ini masih diiringi pertanyaan mendasar, apakah pendidikan telah menjadi solusi, atau justru masih menyisakan persoalan?
Berbagai tantangan masih dihadapi, mulai dari kesenjangan akses antara wilayah perkotaan dan pedesaan, keterbatasan fasilitas, hingga kualitas tenaga pengajar yang belum merata. Selain itu, biaya tidak langsung seperti transportasi dan perlengkapan sekolah masih menjadi beban, sebagian masyarakat sekolah bukan lagi sekadar tempat menuntut ilmu, tetapi juga menjadi beban ekonomi tambahan. Biaya perlengkapan, transportasi, hingga kebutuhan pendukung lainnya sering kali membuat pendidikan terasa mahal, meskipun secara formal disebut “gratis”.
Evi Susantri, salah seorang guru di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Kluet Selatan yang terletak di desa, menilai pendidikan di Aceh menunjukkan kemajuan, namun masih menghadapi berbagai kendala. Ia menyebut adanya upaya peningkatan kualitas melalui pelatihan guru dan pemanfaatan teknologi, tetapi infrastruktur dan fasilitas belajar di sejumlah wilayah masih terbatas, serta capaian literasi dan numerasi siswa perlu ditingkatkan.
Ia juga menyoroti perbedaan signifikan antara sekolah di kota dan desa. Di daerah pedesaan, keterbatasan fasilitas, akses yang sulit, dan kekurangan tenaga pengajar membuat proses belajar kurang optimal. Meski demikian, ia menilai siswa di desa memiliki semangat belajar tinggi dan hubungan yang lebih dekat dengan guru.
Di sisi lain, persoalan relevansi pendidikan juga menjadi sorotan. Fenomena pengangguran terdidik menunjukkan bahwa sistem pendidikan belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan dunia kerja.
Perkembangan teknologi yang pesat turut menjadi tantangan, mengingat tidak semua sekolah memiliki akses digital yang memadai. Hal ini memperlebar kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah.
Ke depan, Evi berharap adanya pemerataan kualitas pendidikan, peningkatan kesejahteraan guru, serta kurikulum yang lebih adaptif dengan kondisi lokal Aceh. Pendidikan diharapkan mampu mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter dan siap bersaing.
Hari Pendidikan Nasional pun diharapkan tidak sekadar menjadi seremoni, melainkan momentum untuk menghadirkan pendidikan yang adil, terjangkau, dan relevan bagi masyarakat Aceh. [Cindy Aulia Sukma]
