-->

Iklan

Iklan

Anak dan Kehidupan Yang Nestapa

7/23/20, 21:50 WIB Last Updated 2020-07-23T16:15:45Z


WASTHA.COM, Banda Aceh-“Dunia acapkali tidak adil menjadi surga bagi anak di mobil sedan dan menjadi lubang kesengsaraan bagi anak di pinggir jalan” Moulidia


Acapkali seorang anak disebut adalah titipan dari Tuhan, setiap orang tua sangat bahagia mendapatkan seorang anak yang menjadi regenerasi ke depan. Kata orang-orang anak adalah pembawa rezeki dan penolong orang tuanya di kehidupan akhir kelak. Maka tak heran jika banyak yang berusaha untuk mendapatkan seorang anak supaya ada yang mendoakan nya ketika telah tiada, karena itu warisan dari Tuhan.

Kehidupan seorang anak dari kecil identik dengan tertawa, bahagia dan selalu dituruti kemauannya, dunia anak sangat indah walau mereka tidak paham ada saatnya fase terpahit dalam kehidupan, bermain dengan tertawa adalah kehidupan surga yang ia miliki. Tetapi kebahagian dunia anak yang diimpikan ternyata tidak berlaku untuk semua anak, entah apa yang membedakannya, entah itu memang sudah takdir Tuhan atau dunia ini terlalu kejam untuk dunianya.

Pendidikan lagi-lagi adalah sektor penting bagi bangsa, tidak terkecuali bagi anak bangsa itu sendiri. Sebuah pendidikan yang nyaman dan sempurna adalah impian dari semua anak, tetapi dunia acapkali tidak adil menjadi surga bagi anak di mobil sedan dan menjadi lubang kesengsaraan bagi anak di pinggir jalan. Tentu saja di negeri para bedebah ini tidak diragukan lagi, lubang setan yang semakin membesar tidak ada lagi keraguan seolah ingin menandingi Tuhan tanpa ketakutan. Miris, negeri kaya ternyata menjadi neraka bagi sebagian penduduknya entah siapa yang tidak mau berlaku adil masih menjadi misteri. Anak di bawah umur yang seharusnya mengenyam pendidikan nyaman untuk mempertahankan negeri ke depan harus menemui takdir bekerja bahkan tidur tak layak seperti bungkusan sisa nasi di jalan. Lantas apa arti Hari Anak Nasional?

Beberapa hari yang lalu penulis membaca sebuah berita bahwa ada seorang anak perempuan di bawah umur yang diperkosa oleh ayah tiri dan disetujui oleh ibu kandungnya sendiri. Sangat pilu, entah siapa yang patut disalahkan, seorang anak yang menjemput takdirnya sendiri atau manusia-manusia berhati setan yang tidak lagi punya pikiran.? Sangat disayangkan, dunia bermain yang dia impikan harus menjadi mimpi buruk yang merenggut semua dunianya tanpa ampun. Peristiwa ini bukan hanya terjadi sekali tetapi berulang kali dan tidak ada yang berani peduli. Pemerintah yang mempunyai kekuasaan selalu berbangga dalam memimpin itu tidak mampu membereskan bahkan mungkin tidak mau melirik karena sudah tenggelam dalam kekuasaan zona nyaman. Tidak sedikit di negeri penuh dongeng ini merajelela peristiwa yang peran korban harus diperankan oleh anak-anak, kekerasaan kepada anak, pemerkosaan anak di bawah umur, bahkan pembunuhan sudah menjadi mimpi buruk dalam dunia anak yang harus siap diterima. Dimana manusia yang katanya memiliki kekuasaan, sampai kapan harus selalu mengisi perut sendiri sedangkan anak bangsa perut saja tidak ada lagi
Semua anak mempunyai hak untuk bahagia termasuk dalam hal mengenyam pendidikan tak selalu dibeda-bedakan karena mereka akan menjadi generasi bangsa ke depan. Kebijakan pendidikan kini juga tidak berpihak kepada anak-anak yang hanya tau jalan. Harus sekolah memakai handphone yang kini dikenal istilah daring, apa tidak pernah berpikir bagaimana dengan anak yang untuk makan saja sangat susah apalagi harus mempunyai handphone untuk bersekolah dan apakah juga tidak pernah berpikir bagaimana anak-anak perdesaan yang susah untuk jaringan. Selalu ada perbedaan untuk dunia yang hanya dinikmati oleh sebagian. Sistem pembelajaraan yang semakin membodohkan entah itu sebuah misi untuk meruntuhkan bangsa ini ke depan, tidak bersekolah tentu hal yang menarik bagi dunia anak yang tidak peduli dengan pendidikan. Jika disuruh berpikir sama mereka tentu mereka tidak akan berpikir karena dunianya hanyalah bermain tetapi manusia yang sudah bisa berpikir ini tidak mau ikut berpikir tentang masa depan mereka, maka boleh saja dalam hal ini manusia seperti itu lebih rendah dari anak-anak yang hanya tahu dunia bermain.

Kita selalu hidup dengan kebohongan dan penuh kemunafikan. Jika hanya mengurusi perut sendiri kita adalah manusia pertama di depan tanpa malu kepada Tuhan. Mengaku manusia yang selalu dilabelkan ciptaan sempura tetapi selalu munafik tentang kemanusiaan. Anak bangsa selalu dibiarkan menderita, diperkosa dan dibiarkan tidur berdebu dijalan, makan sisa makanan untuk melanjutkan kehidupan, benar-benar negeri setan bagi sebagian anak yang hidup di pinggir jalan. Selamat Hari Anak Nasional untuk anak-anak yang berjuang dan menjemput takdir di jalan, takdir Tuhan akan selalu ada kebahagiaan di akhir penantian, kalian adalah tentara Tuhan yang dipilihkan untuk menjaga negeri yang sudah dipeluk oleh orang-orang berhati setan.

Penulis: Moulidia
Kabid Pendidikan Hipelmabdya
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Anak dan Kehidupan Yang Nestapa

Terkini

Topik Populer

Iklan