Ustaz Masrul Aidi: Bangsa Aceh itu Pemberi, bukan Peminta-minta

Share:


WASATHA.COM, BANDA ACEH - Pimpinan Pesantren Babul Maghfirah, Cot Keueung, Aceh Besar, Ustaz Masrul Aidi, menegaskan bahwa bangsa Aceh itu lahir sebagai generasi pemberi, bukan manusia peminta-minta.

Hal itu ditegaskan Masrul Aidi dalam diskusi publik bertajuk "Identitas Aceh, Masih Adakah?", yang digelar, Selasa (30/4/2019) di Kantor Berita ANTARA Biro Aceh.

Ia mengatakan itu, berkait maraknya para peminta-minta di jalanan termasuk juga peminta-minta bantuan atas nama pesantren atau dayah.

"Jangan berikan uang sedekah, tapi tawarkan makanan di cafe.Uang tidak pernah mengenyangkan," katanya.

Secara pribadi, Masrul Aidi tidak setuju model kelembagaan Badan Dayah yang memberikan bantuan bagi dayah di Aceh.

Acara yang digagas KWPSI, Kantor Berita ANTARA dan Majelis Adat Aceh (MAA) itu menghadirkan narasumber Budayawaan TA Sakti, Kolektor Naskah Kuno Tarmizi A Hamid, dan Masrul Aidi.

Masrul Aidi Lc menambahkan, budaya Aceh kini mulai kehilangan jati dirinya akibat perubahan zaman yang ada, sebagai dampak dari kemajuan terutama teknologi dan komunikasi dewasa ini.

Ia mengaku, beberapa perubahan ini terlihat jelas di penduduk lokal di berbagai daerah di Aceh sendiri, seperti mulai dari pakaian muslim yang dikenakan sekarang adalah baju koko. Padahal pakaian adat Aceh sendiri, cenderung lebih mirip dengan teluk belanga.

"Bahkan sampai bentuk bangunan mesjid di Aceh, kita ingin meniru di Timur Tengah. Kita bukan sebagai 'trendsetter' atau cuma jadi 'followers' aktif. Malahan bentuk bangunan wali nanggroe, cenderung bergaya Eropa," tegasnya.

Kolektor Manuskrip Aceh, Cek Midi mengungkapkan, provinsi ini sebenarnya telah mengalami kemunduran beberapa langkah jika dilihat dari peristiwa sejarah yang telah tercipta oleh ulama Aceh sendiri sejak masa lampau.

No comments