Iklan

Iklan

Anda Pria Aceh? Milikilah Empat Keahlian Ini

8/29/17, 18:12 WIB Last Updated 2017-08-29T11:12:27Z

KETIKA menghadiri sebuah acara, pernah tidak Anda tiba-tiba ‘ditodong’ disuruh mengaji dan memimpin doa di depan umum? Sedangkan Anda belum pernah melakukannya. Jangankan di depan umum, untuk sendiri saja masih terbata-bata.

Bagi seorang qari, itu sudah menjadi rutinitasnya dan bahkan sumber mata pencahariannya. Tapi bagi yang tidak expert (ahli) di bidang itu, justru seperti bencana besar menghampirinya.

Suatu ketika, saya menghadiri acara sosialisasi bahaya Narkoba yang dibuat oleh instansi pemerintah di sebuah hotel di Banda Aceh.

Saya datang sedikit terlambat sekitar 30 menit dari jadwal yang sudah ditetapkan. Saya pikir acara sudah dimulai, begitu saya tiba, peserta sudah memenuhi ruangan bermuatan 60 orang itu.

Rupanya acara belum mulai. Saya menuju ke meja pendaftaran peserta. Saya diminta tanda tangan pada lima rangkap. Kok, banyak sekali? Biasa, acara pemerintah kan ada amprah-amprahan gitu! He he.

Seorang ibu menghampiri saya. "Adik bisa ngaji? Acara belum mulai karena yang ngaji sampai sekarang belum datang, adik tolong ya!" pintanya penuh harap.

"Duh, Ibu, saya bisa ngaji, tapi tak pernah melakukannya di depan umum, belum terbiasa saya," tolak saya secara halus. "Tapi kan adik ini berjenggot?" timpal kawannya yang di samping.

Wah, saya terkejut. Memang sih, sebagian orang memahami jenggot itu sebagai simbol orang yang alim, apalagi ada sunnah memelihara rambut yang tumbuh di dagu tersebut. Namun saya tak mau berdebat panjang dengan ibu itu bahwa Yahudi juga punya jenggot, malah panjang-panjang lagi.‎

Setelah menolak permintaan panitia, saya mencari tempat duduk di antara kelompok laki-laki. Saya perhatikan panitia mulai panik.

Narasumber sudah hadir, tapi acara belum mulai‎. Panitia mendekati satu-persatu peserta laki-laki sembari menanyakan siapa yang mampu mengaji untuk pembukaan.

Sudah menjadi tradisi di Aceh, sebagai daerah yang menganut syariat Islam, apapun kegiatan yang sedikit formal, diawali dengan pengajian dan ditutup dengan doa.‎ Kebiasaan ini dilakukan untuk memberkahi acara yang dilaksanakan.‎

Melihat panitia tadi 'bergerilya’ mencari orang yang bisa ngaji, saya mulai iba. Saya selaku pria yang tinggal di daerah berjulukan Serambi Mekkah itu merasa harga diri saya dipertaruhkan jika sampai di ruangan itu tak satu pun yang berani tampil ke depan untuk membaca ayat-ayat suci.

Akhirnya saya acungkan tangan. Raut wajah panitia mulai berseri kembali, sembari menanyakan nama saya untuk dipanggil oleh MC nantinya.

Kini giliran saya yang panik, tidak ada Alqur'an satu pun. Saya coba buka aplikasi Aquran di android, kebetulan android saya pun habis baterai.

Untung saja saya pernah menghafal beberapa ayat pilihan dalam Alquran. Saya baca ayat di akhir surat Albaqarah ayat 184-186 dengan gaya murattal.

Ayat ini sering dibaca imam ketima shalat berjamaah. Saya pun membaca tanpa pakai teks Alquran atau android.

Usai membaca, saya kembali ke tempat duduk. Panitia meminta saya kembali untuk memimpin doa. 

Alhamdulillah itu pun masih saya ingat beberapa doa-doa yang diajarkan ketika masih ngaji di balai pengajian di kampung masa kecil.

Singkat cerita, acara berjalan lancar. Panitia berterima kasih kepada saya karena telah menyelamatkan acara mereka.

Yang menariknya, di ujung acara saya tidak hanya dapat uang akomodasi sebagai peserta, tatapi dapat dobel honorarium karena telah mengaji dan memimpin doa. Aseeek.

Kejadian itu mengajarkan saya bahwa seorang laki-laki muslim yang lahir di Aceh itu harus memiliki minimal empat kemampuan (skill) dalam bermasyarakat.

1. Bisa Membaca Quran | Seorang pria muslim ber-KTP Aceh merupakan aib jika ketahuan tidak mampu mengaji. Walaupun tak semahir para qari/qariah, minimal gaya tartil (membaca dengan pelan) harus bisa.

Mengapa skill ini sangat perlu bagi laki-laki, selain anjuran agama Islam, juga sewaktu-waktu jika tiba-tiba diminta tolong seperti pengalaman saya di atas, maka kita mampu melakukannya. Apalagi di Aceh untuk mencalon diri baik sebagai kepala daerah maupun anggota dewan akan diuji kemampuan mangaji.

Uji baca Quran pun bagi calon pejabat disiarkan langsung di televisi. Bisa dibayangkan jika tak mampu sama sekali atau seperti kameng ek ateuh batee(kambing bertatih di atas batu) akan menjadi buah bibir masyarakat bahwa si pulantak bisa ngaji. Repot kan?

2. Memberi Ceramah | Berdiri di depan khalayak memang bukan pekerjaan gampang. Apalagi belum terbiasa tiba-tiba diminta menyampaikan sepatah dua kata. Kalau tidak siap, bisa berkeringat dingin di atas panggung.

Namun skill ini juga harus dimiliki oleh seorang laki-laki minimal Kultum atau tausiah singkat. Tak perlu mahir beretorika, yang terpenting mentalnya harus dilatih dan menyampaikan bahan dengan terstruktur.

Kesalahan bagi pemula ketika berdiri di depan itu terburu-buru sehingga apa yang disampaikan tidak jelas dan terkesan gugup. Sering kita perhatikan mereka yang gugup itu akan bicara cepat-cepat karena berasumsi supaya cepat menyelesaikan tugasnya.

3. Jadi Imam Shalat | Mampu menjadi imam shalat adalah hal mutlak bagi laki-laki. Skill yang satu ini wajib dimiliki seorang pria Aceh, sebab kemampuan menjadi imam merupakan lambang kepemimpinan.

Sejak dulu, Aceh dikenal dengan fanatisme agama yang tinggi, sehingga bagi orang di luar Aceh menganggap setiap orang Aceh itu memiliki ilmu agama yang baik. Tak jarang ketika orang Aceh merantau, ia akan dipersilakan jadi imam shalat.

Begitu juga ketika ia menikah, jika istrinya dari keluarga orang yang taat bergama, maka linto baro (pengantin pria) akan diminta menjadi imam shalat oleh mertuanya.

Bayangkan saja jika imam shalat saja tak mampu, maka akan dianggap tidak mampu menjadi ‘imam’ (pemimpin) bagi istri dan anak-anaknya nanti.

4. Memimpin Doa | Skill ini juga tak kalah penting jika seorang pria memilikinya. Ketika ada acara-acara syukuran, tiba-tiba diminta memimpin bacaan doa si pria tidak menolaknya.

Namun alangkah baiknya lagi, jika pria itu mampu memimpin tahlilan. Ini menjadi nilai tambah, apalagi ketika tengku imum (sebutan untuk pemuka agama di kampung) berhalangan hadir ketika ada orang meninggal. 

Dengan adanya skill ini sangat membantu. Terlepas ada syarat tertentu yang harus dimiliki untuk bisa memimpin tahlilan ini.

Inilah empat skill  yang mesti dimiliki oleh pemuda Aceh beragama Islam menurut versi Abu Haifa. Jika keempat skill ini sudah Anda kuasai, berarti Anda orang yang beruntung dan rezeki pun lancar. Isnyaallah. [Hayatullah Pasee | abuhaifa.com]

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Anda Pria Aceh? Milikilah Empat Keahlian Ini

Terkini

Topik Populer

Iklan