BANDA ACEH – Masjid Raya Baiturrahman (MRB) tetap menjadi daya tarik utama sekaligus simbol spiritualitas bagi masyarakat Aceh. Di penghujung tahun 2025 ini, masjid yang menjadi saksi bisu kedahsyatan tsunami 2004 tersebut terus bersolek dengan berbagai pemeliharaan fasilitas modern yang menjadikannya salah satu destinasi wisata religi tercantik di Asia Tenggara.
Masjid yang didirikan pada masa Sultan Iskandar Muda tahun 1612 ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan monumen sejarah yang membuktikan kekuatan arsitektur dan iman masyarakat Aceh.
Salah satu keunggulan utama Masjid Raya Baiturrahman adalah perpaduan desain klasik dan modern. Sejak renovasi besar-besaran beberapa tahun lalu, halaman masjid telah dilengkapi dengan 12 payung elektrik raksasa yang mengadopsi gaya Masjid Nabawi di Madinah. Payung-payung ini berfungsi sebagai peneduh otomatis bagi jemaah, memberikan suasana sejuk meski di bawah terik matahari.
Memasuki tahun 2025, Pemerintah Aceh memberikan perhatian khusus pada pemeliharaan infrastruktur masjid. Berdasarkan informasi terbaru, proyek revitalisasi difokuskan pada perbaikan mesin payung elektrik dan pemolesan marmer di area suci agar kenyamanan jemaah tetap terjaga.
"Masjid ini adalah wajah Aceh. Kami memastikan setiap fasilitas, mulai dari pencahayaan hingga sistem pengeras suara, berfungsi dengan standar internasional untuk menyambut wisatawan dan jemaah," ujar salah satu pengelola masjid.
Selain kemegahannya, nilai lebih Masjid Raya Baiturrahman terletak pada sejarahnya yang heroik. Masyarakat dunia mengenalnya sebagai "bangunan ajaib" yang tetap berdiri tegak saat bangunan di sekelilingnya rata dengan tanah akibat tsunami. Hal ini menjadikan MRB sebagai simbol harapan dan ketangguhan (resiliensi) bagi dunia internasional.
Kini, dengan kapasitas mencapai 24.000 jemaah, Masjid Raya Baiturrahman terus berdiri sebagai pusat peradaban Islam di Serambi Mekkah yang siap menyambut masa depan tanpa melupakan akar sejarahnya yang kuat. [Asyila Zakira, Nurul Fadilah Binti Junaidi, Atiyyah Alya Fatnin Binti Mazuki, Roviana.]
