Mengalah untuk Memimpin

Share:

DALAM perjalanan dari Jakarta—Banda Aceh menggunakan pesawat komersil
Garuda Indonesia, saya mengisi waktu luang dengan membaca buku. Tentu saja setelah berdoa dan membaca beberapa surat Alquran yang menenteramkan jiwa.

Saya duduk di kursi nomor 40 K, bersebelahan dengan jendela. Saya melihat awan-awan yang tersusun indah. Sebagian darinya saya foto dengan camera pocket.

Saya baca sebuah buku lama berjudul “Talents Mapping” yang diterjemahkan artinya menjadi “Pemetaan Bakat”. Buku ini sangat bagus dengan mengupas 34 sifat produktif yang dimiliki manusia.

Saya sitir salah satu ulasan buku ini: ada orang yang memahami dan mengetahui dirinya sejak dini, namun banyak orang yang tidak memahami dan mengetahui diri.

Di bawah tulisan judul tertera sebuah judul kecil “inspirasi untuk hidup lebih asyik dan
bermakna”.

Dua jam, saya tuntas membacanya. Saya kemudian tertidur pulas, namun seperti membayangkan isi buku itu. Banyak orang yang tidak mengenal dirinya sendiri dengan baik, lalu sudah (telanjur) terlibat dalam pekerjaan dan kegiatan yang melibatkan orang banyak.

Buku ini ingin mengatakan kepada kita: mengenal diri sendiri mengandung makna
keterbukaan kepada diri sendiri.

Dalam pembuka buku, si penulis yang bernama Abah Rama Royani, mengungkapkan sebuah kalimat yang memiliki makna yang sangat dalam: “Ada orang yang beruntung karena mengenal dirinya, namun banyak orang yang tidak beruntung karena abai akan dirinnya. Ada orang yang terbuka pandangannya karena mau mengambil pelajaran, namun banyak yang menutup pandangan dan tidak mau mengambil pelajaran.”

Yang sangat saya ingat setelah membaca buku ini adalah makna kekuatan dari
sebuah keterbukaan untuk mengenal diri sendiri dengan baik.

Mengenal diri sendiri adalah bagian memimpin diri sendiri. Kenapa? Karena memimpin diri sendiri sebuah pekerjaan “hebat” dalam proses kepemimpinan, sebelum kita bisa memimpin orang lain.

Memimpin diri sendiri seperti sebuah proses mengemudi, dimana banyak aturan dan rambu-rambu yang harus dipatuhi untuk menyelamatkan banyak penumpang yang dibawa di belakangnya.

Logikanya, para “penumpang” yang duduk di belakang, menyerahkan semua keputusan yang diambil oleh seorang pemimpin (driver), meski dalam perjalanan sang supir belum tentu sepenuhnya bisa mengambil dan menghasilkan keputusan yang terbaik untuk dirinya dan orang lain.

Lebih menyedihkan kalau keputusan yang dibuat akan menyusahkan dan membebankan orang lain.

Dalam proses ini tentu saja ada hal istimewa yang dibutuhkan setiap orang yang belajar memimpin diri sendiri, yaitu mengalah. Ini adalah sebuah kecerdasan dari seorang pemimpin.

Mengapa? karena satu hal (lagi) yang tergolong hadiah yang bernilai cukup mahal dan harus kita berikan kepada orang lain adalah kesabaran dan mengalah. "Kita" mungkin sering merasa sulit melakukan hal ini.

Namun mengalah, dengan ketulusan yang ikhlas adalah sebuah bentuk kerja keras yang tak semua orang bisa melakukannya meskipun kerja keras itu bernilai mulia, tak hanya di mata manusia namun juga dimata Allah.

Mengalah, sayangnya, bukanlah urusan mudah untuk dilakukan. Terlebih bila pelakonnya tidak memiliki kedewasaan dan kematangan emosi yang belum terbangun dengan baik.

Jika-pun dilakukan, yang sering terjadi adalah keinginan  dan suntuk memempertahankanegoelalu tak ingin berada di pihak yang kalah.

Contoh lain, setiap jiwa bisa menyembunyikan rencana “jahat” yang ia rancang terhadap orang lain, dengan alibi pribadi, orang lain tak akan mengetahui.

Namun bila setiap pribadi “bercermin” dengan benar, tentu akan bisa melihat dengan bersih bagaimana congkaknya diri anda sendiri, bagaimana jahatnya anda terhadap orang? Tentu itu jauh dari urusan menemukan diri sendiri.

Mengalah membutuhkan kecerdasan untuk kemudian diimplementasikan. Orang yang bisa menjalani ini adalah orang yang (telah) mengenal dirinya sendiri.

Untuk bisa mengenal diri sendiri, setiap pribadi butuh “cermin”. Seperti apa? Cermin yang bersih sehingga mampu melihat refleksi setiap diri dengan baik. Ini adalah proses mengamati diri yang luar biasa.

Di sisi lain, keterbukaan dankesungguhan melakukan suatu kebaikan memang butuh perjuangan. Dan itu sulit.

Tapi saya yakin, Insya Allah, banyak yang sudah mencobanya (aku, kamu, anda, mereka, dia dan kalian), untuk mengenal diri sendiri. Setelah itu, kita bisa memulai menjalani peran kita di muka bumi ini dengan baik.[]


Hendra Syahputra, adalah Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Narasumber Program "TITIK TEMU" di Radio Assalam FM 107,9 MHz.  Bisa dihubungi di email: hsyahputra@gmail.com.

No comments