Tiada Maaf Bagimu

Share:
T Lembong Misbah

SAAT Datsur menghunus pedangnya tepat di atas ubun-ubun Rasulullah seraya berkata dengan pongahnya: “Muhammad siapa yang dapat menolongmu saat ini?” Rasulullah menjawab: “Yang dapat menolongku saat ini adalah Allah.”

Jawaban itu membuat sekujur tubuh Datsur bergetar, hingga tak kuat menggenggam pedang di tangannya dan akhirnya terjatuh.

Kemudian pedang itu diambil alih oleh Rasulallah dan langsung mengarahkan pada tubuh Datsur sembari berucap: “Datsur siapa yang dapat menolongmu saat ini?” “Aku akan selamat, jika engkau memaafkan aku,” jawab Datsur lirih.

“Jika begitu, engkau kumaafkan,” kata Rasulullah.

Dari kaca mata akal sehat peristiwa di atas tentunya tak mungkin disebut sebagai kejadian biasa dan sepele, sebab menyangkut persoalan nyawa.

Kala itu Datsur tidaklah main-main dengan ancamannya, ia memang telah lama berniat dan mencari-cari kesempatan untuk menghabisi Rasulullah. Artinya bukan karena emosi sesaat lalu bereaksi seperti itu. Dengan kata lain, terindikasi nyata adanya upaya pembunuhan terencana.

Nabi menyadari akan niat jahat Datsur itu, tapi ia mampu mengendalikan amarahnya dan lebih memilih memaafkan Datsur.

Kelapangan hatu memaafkan orang seperti Datsur tentu bukanlah perkara mudah, tapi Nabi dengan segenap kebesaran jiwa dan kemuliaan dirinya secara tulus memaafkan orang yang nyata-nyata ingin melenyapkannya dari muka bumi ini karena ia telah meminta maaf.

Allah berfirman: “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan meraih surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan”. (Q.S Ali Imran: 133-134).

Dalam ayat yang lain: “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal”. (Q.S Ali Imran: 159).

Abu Bakar as-Shiddiq RA, sempat bersumpah tidak akan memaafkan kesalahan Misthah bin Utsatsah dan bertekad tidak akan memberikan nafkah kepada sepupunya itu selamanya, karena dianggap telah menyebarkan berita bohong dan menuduh putri tercintanya, Aisyah berbuat zina dengan lelaki lain.

Allah kemudian menegur sikap Abu Bakar yang tidak mau memaafkan itu melalui Firman-Nya:

 “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22).

Jika Allah saja Maha Pengampun, maha menerima tobat hamba-hamba-Nya yang berbuat dosa, demikian pula dengan Rasulullah yang begitu mudah memberi maaf sekalipun pada musuhnya.

Lalu mengapa kita sebagai hamba yang dhaif begitu jumawa menutup pintu maaf untuk orang lain, malahan dengan pongahnya berucap “tidak ada maaf bagimu” walau terkadang hanya dipicu oleh perkara sepele seperti salah ucap, salah ketik, candaan yang berlebih dan persoalan remeh temeh lainnya.

Karena itu memaafkan tentunya tidak akan membuat diri kita hina, meminta maaf juga tidak akan meruntuhkan harga diri kita, justru saling memaafkan yang membuat kita mulia. Ali bin Abi Thalib berkata: “Memaafkan adalah kemenangan terbaik”.

Sebagai khatimah, mari lucuti rasa dendam dan amarah syaitaniah, buka pintu gerbang kemaafan selebar-lebarnya pada saudara kita yang telanjur salah. [T Lembong Misbah]

No comments