Menggadaikan Kehidupan Akhirat

Share:
T Lembong Misbah

UMAR bin Khattab dan sahabat lainnya terkejut bukan kepalang saat Rasulullah menunjukkan lilitan kain yang berisi batu kerikil kecil di perutnya untuk mengganjal rasa lapar.

"Ya Rasulullah mengapa engkau tidak menyampaikan kepada kami, jika engkau tidak memiliki makanan?" Kata Umar dengan nada cemas.

Seraya tersenyum Rasul menjawab:
“Tidak wahai sahabatku! Saya tahu, apapun akan kalian korbankan demi Rasulmu, tetapi apa jawaban saya di hadapan Allah kelak, jika saya sebagai pemimpin malah menjadi beban bagi umatnya? Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah dari Allah, agar umatku nantinya tidak ada yang kelaparan di dunia, lebih-lebih di akhirat kelak, " jawab Rasulallah.

Jawaban tegas Rasulullah tidak mau menjadi beban umatnya, menyiratkan betapa tingginya etika kepemimpinan beliau.

Baginya tugas seorang pemimpin adalah memberi bukan menerima, melayani bukan dilayani, menghormati bukan minta disanjung-sanjung, penyelesai masalah bukan pembuat gaduh, meringankan beban rakyat bukan menyengsarakan, dan lain sebagainya.

Etika kepemimpinan seperti yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah di atas, kerap berbanding terbalik dengan kepemimpinan yang dijumpai masa kini.

Alih-alih meringankan beban rakyatnya malahan mereka menari vulgar di panggung fee proyek. Sudah menjadi rahasia umum praktek kotor semacam itu dianggap sebagai tradisi yang besarannya berkisar antara 5 hingga 10 persen, malahan kadang ada yang lebih, caranya “yang penting olah.”

Sebagai contoh dalam kasus Fuad Amin, Bupati Bangkalan. Di mana sejumlah saksi yang dihadirkan dalam persidangan kasus korupsi itu, mayoritas memberikan keterangan yang sama. Mereka mengakui bahwa dalam pengajuan anggaran untuk setiap kegiatan di Dinas Pemerintahan Kabupaten Bangkalan pasti dipotong sebesar 5-10 persen untuk memenuhi kantong Fuad Amin.

Dalam keterangan lain bukan hanya persoalan proyek anggaran tetapi juga Fuad disebut meminta uang kepada PNS yang ingin menyesuaikan penempatan dalam sebuah jabatan.

Model kepemimpinan seperti ini tentu dalam Islam disebut sebagai pemimpin yang zalim.

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim.” (HR. Tirmidzi).

 “Siapapun pemimpin yang menipu rakyatnya, maka tempatnya di neraka.” (HR. Ahmad).

Dalam Riwayat yang lain ditegaskan “Barangsiapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka Allah haramkan baginya surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Aidh al-Qarny menuturkan: “Sungguh bodohlah orang-orang yang mengorbankan kebahagiaan akhiratnya hanya karena oleh kebahagiaan dunia yang secuil. Dunia ini tiada lain hanya panggung sandiwara, kata Ahmad Albar dalam salah satu bait lagunya.

Allah berfirman: Artinya: “Dan kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” {Q.S Ali ‘Imran :185}.

Dalam ayat yang lain Allah menegaskan: Artinya: “Dan kehidupan dunia hanyalah kehidupan yang penuh permainan dan hiburan yang memperdayakan. Dan sungguh kehidupan akhirat jauh lebih baik, bagi orang-orang yang bertaqwa. Apakah kalian tidak berpikir?” {Q.S al-An ‘am: 32}.

Bahkan Allah sangat mencela orang-orang yang menggadaikan kehidupan akhiratnya hanya karena terpesona dengan kehidupan dunia.

Allah SWT berfirman, artinya: “Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan meninggalkan kehidupan akhirat, maka siksa terhadap mereka tidak akan diringankan dan mereka tidak akan ditolong.” {Q.S. al-Baqarah: 86}.

Karena itu, orang yang kaya bukanlah mereka yang memiliki banyak harta, akan tetapi mereka yang merasa cukup dengan rizki yang dianugerahkan Allah kepadanya.

Nikmat yang paling nikmat di dunia ini adalah manakala kita dapat menikmati nikmat yang diberikan Allah.

[T Lembong Misbah, adalah Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-raniry, Banda Aceh | e-mail: lembong.info@gmail.com]

No comments