Memarkir Mobil dalam Tengkorak

Share:
T Lembong Misbah

KONON ada cerita tentang seorang OKB (orang kaya baru) yang membeli mobil baru. Ia cukup senang dan bangga bisa memilikinya.

Saking senangnya ia menjaga mobil itu melebihi cintanya pada anak dan istrinya. Karena itu dengan alasan keamanan, mobil tersebut disimpan dalam garasi kokoh, stir dan ban digembok, mengunci pintu pagar dengan palang besar dan memasang CC-TV di setiap sudut rumahnya.

Pengamanan yang super ketat itu ternyata belum membuatnya tenang, hatinya tetap was-was akan kemungkinan mobil itu digondol maling. Terlalu!

Sikap terlalu itu tidak berhenti disitu saja, bahkan mobil yang sejatinya dipergunakan untuk mempermudah dan membantu dalam memperlancar  aktivitasnya di luar rumah ternyata jarang dipakai, malahan lebih konyol lagi jika musim hujan tiba, mobil tersebut tidak sekalipun digunakan alasannya sayang, takut kotor.

Cuplikan cerita di atas memperlihatkan sikap seseorang yang sangat berlebihan dalam mencintai harta. Sikap semacam ini sama seperti orang yang memasukkan gunung Seulawah dalam tengkoraknya.

Sikap dan perilaku yang demikian dalam agama Islam didiagnosa mengidap penyakit hati akut, penderitanya kerap disebut dengan hubbul maal.

Penyakit semacam ini acapkali mengubah harta dari Rahmat menjadi laknat, karena pengidapnya akan  condong menjadi pecinta dunia dan melupakan akhiratnya.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah pernah berujar bawa orang-orang yang amat mencintai dunia itu akan dijangkiti tiga macam penyakit yaitu: keruwetan pikiran yang terus menghantui, kesukaran hidup yang datang silih berganti, dan terus diliputi rasa kecewa dalam dirinya.

Ungkapan bijak dan penuh pelajaran ini dapat dimaknai bahwa orang-orang yang sangat cinta pada harta dan amat takut hilang dari sisinya adalah sosok manusia berpenyakitan yang menggali lubang penderitaan dalam hidupnya.

Justeru itu Allah mengingatkan: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (QS. bAl-Hadid : 20).

Menengok ayat di atas seyogyanya cukuplah menjadi peringatan keras bagi mereka yang memiliki mata hati, dimana Allah menganalogikan kehidupan dunia sebagai sebuah permainan yang melalaikan, hal ini dapat dimaknai bahwa dunia dan kenikmatan yang dibentangkannya hanyalah tipu daya dan sandiwara untuk menjebak manusia yang lalai dan lupa diri atas harta yang dipunyainya. Firman-Nya: “Dan kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Q.S Ali ‘Imran:185).

Pun demikian Islam tidak melarang pemeluknya untuk jadi orang kaya, hanya saja setiap umat Islam diingatkan agar pandai dalam mereguk dan menyeruput nikmat Allah jangan sampai harta menghalangi diri seseorang dari mengingat Allah.

Artinya, berhati-hatilah dalam memanfaatkan harta, sebab bila ada sedikit kelengahan maka dengan sigap ia menawan pemiliknya. Bila manusia telah menjadi tawanan harta tentu berakibat sangat fatal, biasanya mereka akan dijadikan budak nafsu dan diseret ke penjara dalam lembah nista.

Karena itu, jadikanlah dirimu kesatria dengan  menyintai harta sewajarnya, mempergunakannya di jalan yang benar sesuai dengan petunjuk dan perintah Allah seperti berzakat, berinfak, bershadaqah, menyantuni anak yatim, dan membantu fakir miskin.

Penggunaan harta yang tepat tidak hanya melumpuhkan kepongahan harta tetapi niscaya akan mendatangkan nikmat berlipat bagi pemiliknya baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Sebagai khatimah, jangan sekali-kali mencoba memasukkan seluruh harta yang dipunyai seperti mobil dan perhiasan dalam tengkorak kepala yang kecil, sebab jika dipaksakan tentunya akan membuat batok kepala pecah berkeping-keping akibat tidak kuat menampung volume atau bobot yang masuk.

Cukuplah mobil ditempatkan dalam garasi saja tidak usah diparkir dalam kepala, pakailah mobil sebagai kendaraan dalam memudahkan aktivitas sehari-hari dan jangan biarkan mobil mengendarai diri kita, sebab jiwa dan raga seseorang pasti tidak akan kuat bila digilasnya. Azab Allah itu Maha Pedih. []

***
T. Lembong Misbah adalah Wakil Dekan Bidang Kerjasama dan Kemahasiswaan Fak. Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry


No comments