Mahathir Mohammad Muslim Man Of The Year

Share:

WASATHA.COM, KUALA LUMPUR - Perdana Menteri  Malaysia Tun Dr Mahathir Mohamad terpilih sebagai Muslim Man of the Year oleh buku tahunan The Muslim 500 edisi 2019.
Seperti dilansir New Straits Times, Ahad (30/12), Mahathir menduduki peringkat teratas, memimpin daftar 500 tokoh Muslim terkemuka dunia.
Penilaian dilakukan oleh Royal Islamic Strategic Studies di Amman, Yordania.
Keberhasilannya memimpin Pakatan Harapan untuk memenangi Pemilihan Umum ke-14, yang kemudian diangkat sebagai Perdana Menteri kedua setelah 22 tahun masa pemerintahannya sebelumnya, adalah keistimewaan khususnya.
Mahathir digambarkan sebagai satu dari satu juta yang mendorong Malaysia untuk menjadi Pemimpin Ekonomi Asia Timur selama era pemerintahan sebelumnya.
“Pria yang luar biasa ini memiliki karir politik yang dinamis selama 70 tahun dan pada saat yang sama menjadi penulis 17 buku yang diterbitkan. Selain dari dua memoar, semuanya adalah narasi langsung yang menanggapi masalah langsung yang dihadapi pemerintahan dan ekonomi Malaysia, suatu keprihatinan sering meluas ke Asia secara keseluruhan dan ekonomi global dan rencananya untuk memperbaiki masalah-masalah itu.”
“Ia adalah politikus berusia 93 tahun dengan riwayat dua serangan jantung dan satu operasi bypass,” kata Prof S Abdallah Schleifer dalam tulisannya di publikasi daring.
Juga dalam daftar itu tertera Raja Abdullah II dari Yordania, Presiden Indonesia Joko Widodo, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Sementara itu, untuk wanita Muslim paling berpengaruh, gelar Woman of the Year Muslim diberikan kepada Ahed Tamimi, 17, seorang remaja Palestina yang dikenal karena keberaniannya menampar tentara Israel pada Desember 2017.
500 Muslim Paling Berpengaruh adalah publikasi tahunan yang diterbitkan sejak tahun 2019 yang mengakui individu-individu Muslim paling berpengaruh di dunia.
Nominasi dievaluasi berdasarkan pengaruh yang dimiliki umat Islam tertentu dalam komunitas Muslim dan cara pengaruh mereka menguntungkan komunitas Muslim, baik di dunia Islam maupun dalam hal merepresentasikan Islam kepada non-Muslim.
“Berpengaruh” untuk tujuan buku ini didefinisikan sebagai “setiap orang yang memiliki kekuatan (baik itu budaya, ideologis, keuangan, politik atau lainnya) untuk membuat perubahan yang akan memiliki dampak signifikan pada Dunia Muslim”.
Itu disusun oleh Royal Islamic Strategic Studies Centre yang berbasis di Amman, Yordania. (minanews.net)

No comments