Karena Bukan Aku

Share:

T Lembong Misbah
“jika anda ingin dikatakan orang baik maka teruslah berbuat baik”.


ADA seorang warga sebut saja namanya Madi, ia selalu mengeritik apa saja yang dilakukan oleh Alan seorang keuchik (kepala desa) di gampongnya. 

Baginya keuchik Alan itu tidak becus, tidak bijaksana, pendek antene dan kata-kata satir lainnya kerap mengalir deras hingga kadang membuat mulutnya berbuih dan berbusa.

Dalam pandangannya semua program gampong (desa) yang dijalankan oleh keuchik Alan tidak ada yang bagus, hanya menghambur-hamburkan duit negara.

Kritikan keras itu kadang menggelikan sebagian warga, sebab program yang diusung oleh keuchik Alan sebagian besar adalah program yang telah dijalankan oleh Madi sebagai keuchik sebelumnya. 

Madi adalah mantan keuchik yang urung menjabat kedua kalinya karena kalah telak dari suara yang diraup Alan sebagai pesaingnya.

Memang ada sebagian warga yang membenarkan kritikan Madi, namun itu disinyalir para pendukungnya saat pemilihan keuchik atau orang dekat Madi yang dikenal juga sebagai juragan tanah. 

Akan tetapi bagi warga yang kenal betul dengan Alan, tentu tidak mengamini begitu saja apa yang disampaikan oleh Madi. Dari luar Alan memang tampak biasa tapi sebenarnya ia merupakan sosok yang cerdas dan serius dalam bekerja.

Terbukti di tangan Alan, program gampong yang sebelumnya amburadul dapat  ia benahi dengan baik dan dijalankan penuh bijaksana, dimana Alan senantiasa memberi ruang partisipasi yang cukup pada semua warga, untuk memberi saran dan masukan pada program yang akan dijalankannya tujuannya agar program tersebut tepat sasaran dan berdaya guna.

Misalkan saja, rencana kelanjutan pembangunan WC meunasah, Alan meminta pendapat kaum perempuan dan dilibatkan secara langsung dalam proses pembangunannya, dalam benaknya kebutuhan perempuan itu pasti berbeda dengan kebutuhan laki-laki. 

Kemudian rencana pembangunan gedung PKK, keuchik Alan mendengar dan melibatkan kaum difabel (orang berkebutuhan khusus) agar gedung itu setelah selesai dapat diakses oleh semua orang. Demikian pula program lainnya. 

Alan tampaknya sadar betul bahwa pembangunan berkelanjutan itu harus dapat melibatkan masyarakat seramai mungkin, agar mereka punya rasa memiliki terhadap pembangunan yang ada.

Awalnya, Alan merasa terusik dengan kritikan-kritikan yang dilontarkan oleh Madi, ia kurang nyaman bekerja, karena  kritikan itu kadang sudah menjurus pada fitnah dan pembunuhan karakter. 

Untungnya Alan punya seorang sahabat yang bijak dan kerap mengingatkannya untuk tidak reaktif. Sahabatnya itu acap berujar dengan mengutip kata-kata seorang filosof Islam ternama Ibnu Rusyd yaitu: “jika anda ingin dikatakan orang baik maka teruslah berbuat baik”.

Hanya dalam tempo tiga tahun capain kinerja Keuchik Alan cukup luar biasa. Hampir seluruh fasilitas elan vital warga terpenuhi. 

Mulai dari air bersih, irigasi, listrik, sarana pendidikan, sarana olah raga, karang taruna, balee gampong, dan meunasah telah selesai dibangun. Baik menggunakan dana gampong maupun dana-dana lain yang diusahakan oleh keuchik Alan dari berbagai sumber yang tidak mengikat.

Pada tahun berikutnya keuchik Alan memfokuskan program kerjanya pada pengembangan ekonomi masyarakat, dan hal itu disambut antusias oleh warganya.

Alan banyak mendatangkan para enterpreneur ke gampongnya untuk memberikan pemahaman tentang pengelolaan sumber daya alam yang melimpah di gampong itu, lahan sawah yang luas, ada eceng gondok, bambu, rotan dan lain sebagainya yang sangat potensial dipasarkan jika diolah secara benar. 

Di samping itu Alan juga tidak lupa membawa para pemodal untuk melibas lintah darat yang mulutnya berdarah-darah menghisap darah warga.

Program pemberdayaan  yang dilakukan secara terpadu dan terukur menjadikan gampong yang digawangi Alan terpilih sebagai gampong berprestasi tingkat nasional. Raihan itu tentu saja mengalirkan banyak manfaat pada kesejahteraan warganya.

Gampong Tunas Harapan itu kemudian menjadi terkenal dengan berbagai kerajinan produk warga dan sistem pengelolaan gampong yang mandiri, hal itu menjadi magnet bagi daerah lain untuk mengunjunginya, baik untuk wisata maupun studi banding.

Sentuhan tangan dingin keuchik Alan ini menjadikan Gampong Tunas Harapan tumbuh menjadi daerah yang makmur dan sejahtera.

Walhasil, Madi yang sebelumnya mengeritik Alan dengan nada pedas dan kadang kasar, dianggap sebagai sosok pecundang

Warga memandang sikap keras Madi hanyalah ungkapan sakit hati karena ia tidak terpilih sebagai keuchik kedua kalinya. Madi selalu menganggap yang bukan dia, Bukan Aku adalah rendah dan tak bisa apa-apa.

Akhirnya Madi diam seribu bahasa manakala ia melihat dan menyaksikan bahwa Alan lebih baik dari dirinya. [T Lembong Misbah]





No comments