Menerabas Batas Fitrah Manusia

Share:
T.Lembong Misbah

MANUSIA adalah puncak ciptaan Tuhan, yang diciptakan-Nya dalam sebaik-baik kejadian. Manusia diciptakan sebagai makhluk kebaikan (fitrah), karena itu masing-masing pribadi manusia sejatinya berpandangan baik kepada sesamanya dan berbuat baik untuk selamanya.

Disematkannya akal, pikiran dan nafsu kepada manusia diperuntukkan agar manusia mampu mengaktualisasikan kebaikan yang tertanam dalam dirinya.

Karena itu bagi mereka yang mengingkari kebaikan tentunya telah  menerabas batas penciptaan dirinya sebagai manusia yang paripurna.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Rabb)." (QS. 16:120).

Menurut Cak Nur, Hanif adalah kecenderungan dasar manusiawi yang senantiasa mengajak dan mendorong manusia agar menicintai dan merindukan yang benar. Dan sejak dari penciptaannya terdahulu (primordial) manusia berada dalam sebuah kesucian asal atau juga sering disebut kesucian primordial.

Mencintai dan merindukan yang benar adalah kearifan tertinggi pada akal dan nurani yang Allah anugerahkan kepada hamba. Hal ini sekaligus sebagai penanda kedudukan manusia di hadapan Tuhan.

Manusia yang cinta dan merindukan kebenaran tentunya mereka yang senantiasa menasbihkan dirinya agar senantiasa bermanfaat pada orang lain. Nabi bersabda: Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat pada manusia lain.

Dalam sebuah peperangan seorang prajurit terjatuh dari kudanya dan terluka parah, ia mendapati seorang prajurit lain yang bersisian dengannya dengan kondisi sangat lemah karena kehausan.

Di tengah berkecamuknya perang diiringi tarian pedang yang melenting si prajurit yang terluka parah menyodorkan tabung air perbekalan yang tersisa beberapa teguk lagi.

Sodoron itu ditolak dengan halus, karena persediaan air itu dilihat hanya cukup untuk satu orang saja. Karena keduanya ingin memberi cinta dan kebaikan maka mereka hanya saling sorong dan akhirnya kedua mereka syahid bersama di medan perang karena kehausan.

Demikian pula dengan Rasulullah yang setiap hari menyuapi makanan pada seorang pengemis tuna netra di persimpangan jalan, sekalipun si tuna netra itu terus mengata-ngatai Nabi dengan berbagai cemoohan dan fitnahan.

Jadi, bagi Nabi cinta dan kebaikanlah yang akan meluluhkan dan melunakkan hati yang keras. Terbukti memang akhirnya si tuna netra tersebut akhirnya memeluk Islam. Karena itu dalam Islam dituntut pada pemeluknya untuk tidak mengedepankan kekerasan setiap aktivitas dakwahnya sekalipun menghadapi orang-orang kafir.

Allah berfirman: "Dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas “ (Surah al-Maidah : 87).

Makna melampaui batas dalam ayat di atas cakupannya sangat luas, bisa dalam bidang ibadah, akidah, hukum, dakwah dan dalam hidup keseharian manusia.

Misalkan saja dalam bidang hukum fiqh, seseorang bisa disebut melampoi batas manakala menstigma/menuduh orang lain atau kelompok lain kafir hanya gara-gara perbedaan mazhab atau karena perbedaan pemahaman terhadap teks agama.

Demikian pula dalam dakwah akan dapat terjerumus pada sikap melampaui batas, jika si da’i kerjanya menghujat, menebar kebencian, menyebarluaskan hoax, provokatif dan lain sebagainya yang dapat mengganggu stabilitas kehidupan umat.

Dari isyarat-isyarat di atas tentunya tidak elok rasanya  jika seseorang yang merasa dekat dengan Tuhan tetapi ia sendiri sebenarnya musuh Tuhan, karena sikap dan perbuatannya yang melampaui batas.

Setiap muslim sejatinya berpikir bagaimana menebar dan memberi cinta yang sebanyak-banyaknya dengan memberikan jalan kemudahan dan kebaikan pada saudaranya.

Rasul bersabda: “Barang siapa yang memudahkan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan niscaya akan Allah memudahkan baginya di dunia dan akhirat” (HR. Muslim).

Dalam sabdanya yang lain: “Barangsiapa membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan membantu keperluannya.” (Muttafaq ‘alaih)”.

Sebagai khatimah, kenali dirimu niscaya kamu akan mengenali Tuhanmu. Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui atas segala yang diperbuat oleh hamba-Nya.

Jangan korbankan fitrah dirimu dengan
cara menerabas cinta dan kebaikan melalui sikap melampaui batas.[]

***
T.Lembong Misbah adalah Wakil Dekan Bidang Kerjasama dan Kemahasiswaan Fak. Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry
  

No comments