Jangan Salah Pilih!

Share:

SEORANG temanku kecewa berat saat pulang ke rumah dimana barang yang dibelinya di sebuah supermarket ternyata tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh istrinya.

Alih-alih mendapatkan pujian dan penghargaan malahan mendapat semprotan dengan kata-kata yang menyayat hati.

Sakitnya lagi, barang yang dibeli itu ternyata tidak dapat dikembalikan yang membuat istrinya murka. Temanku ini ibarat kata pepatah sudah jatuh tertimpa tangga, sudah membeli barang dengan harga lumayan mahal, malah mendapat sikap tidak baik dari istrinya, apes!

Barangkali kesalahan dalam memilih barang tersebut rasa kekecewa yang teramat dalam itu masih bisa ditebus dengan berbagai cara, artinya kemungkinan untuk mengembalikan kekecewaan itu pada kebahagiaan masih sangat mungkin, kecuali bagi seorang istri yang tidak mencintai suaminya.

Namun yang menjadi persoalan besar adalah manakala manusia itu salah dalam memilih jalan hidupnya. Ia lalai dengan dunia, menepikan akhirat, dalam otaknya hanya uang dan kekuasaan.

Manusia yang seperti ini baru mengerti akan hakikat hidup di dunia manakala telah dihadapkan di rabbun jalil, pengadilan Allah Yang Maha Tinggi.

Penyesalan orang-orang sesat yang menusuk tulang sumsum itu terekam dalam al-Qur’an:  “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: Alangkah baiknya, andaikan kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul. Dan mereka berkata: “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” {QS. Al Ahzab: 66-67}. Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata), “Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal shaleh. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin  {Q.S as-Sajadah:12}.

Dalam ayat yang lain Allah mengabarkan tentang ratapan penghuni neraka yang sangat memilukan, Firman-Nya: Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” [Al Mulk,10-11].

Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul.” {QS . al-Furqan: 27}.

Dia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.” {QS. al-Fajr: 24}. Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata, “Seandainya kami dikembalikan (ke dunia) tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.” {QS. al-An’am: 27}.

Ratapan penyesalan di atas sekalipun mengeluarkan air mata darah tentu tidak ada gunanya lagi, karena itu bagi insan yang sadar diri akan hidup di dunia ini tentu sangat berhati-hati dalam memilih jalan hidup.

Cukuplah aturan dan peringatan Allah sebagai pemandu bahtera hidup yang  dikayuh, tidak tergoda dengan silaunya keindahan dunia yang terus bersolek diri untuk menggamit dan mematikan nurani serta membutakan jalan kebenaran.

Pilihlah jalan yang diperintahkan Tuhanmu, niscaya sang hamba mendapati hidup di dunia dan di akhirat dengan penuh keselamatan dan kebahagiaan.

***
T. Lembong Misbah adalah Wakil Dekan Bidang Kerjasama dan Kemahasiswaan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

No comments