Gorengan Baru

Share:

GORENGAN adalah makanan ringan yang populer dan laris manis di tanah air, jenis jajanan ini dapat dijumpai hampir setiap sudut kota dan kampung baik yang dijajakan di tepi jalan atau berkeliling dengan pikulan atau gerobak. Jenis gorengan ini semakin hari semakin variatif dari gorengan klasik sampai gorengan baru.

Gorengan klasik yang masih sangat diburu oleh pecintanya sampai saat ini  adalah  seperti pisang goreng, tempe goreng, tahu goreng,  risol goreng, ayam goreng, nasi goreng, mie goreng dan lain-lain. Bukan rahasia lagi berbagai jenis gorengan di atas acapkali menggugah selera apalagi saat musim hujan.

Seiring perkembangan jaman, jenis gorengan ini semakin banyak bermunculan dengan menawarkan cita rasa yang lebih “menggigit” bahkan bisa mematikan rasa. Gorengan baru ini dijajakan di medsos, sehingga segmen pasarnya juga tidak terbatas, mulai dari pejabat sampai ke penjual obat, dari konglomerat sampai rakyat melarat.

Gorengan di medsos kerap dimaknai dengan mengotak-atik berita/informasi biar mathuk (cocok). Tujuannya untuk menyerang siapa saja yang tidak disukai oleh si tukang goreng. Omongan, cara jalan, sampai kerdipan mata dinilai salah dan digoreng-goreng oleh mereka agar orang yang digoreng tersebut  menjadi malu dan jatuh martabatnya.

Pendek kata, asal ada sesuatu yang dilakukan atau diucapkan oleh seseorang yang kurang disukai, langsung digoreng-goreng pakai bimoli, ditaburi garam, merica/lada hitam dan bawang goreng pula, sehingga baunya membuat tetangga sebelah bersin-bersin dan batuk-batuk.

Padahal, menurut ilmu medis mengonsumsi banyak gorengan sangat tidak baik untuk kesehatan, karena gorengan dapat membuat seseorang berisiko meningkatkan kadar kolesterol. Saat kolesterol meningkat, maka berbagai penyakit akan menyerang tubuh, seperti penyakit diabetes dan stroke. Namun sayangnya, ketika mengonsumsi gorengan, di antara kita semakin dibuat ketagihan dan tidak mau berhenti mengonsumsinya.

Dalam Islam, gorengan di medsos di atas identik dengan ghibah, menggunjing atau mengumpat. Allah berfirman “Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain.

Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih”. [Al Hujurat :12]

Rasulullah bersabda “Dari Qais, dia berkata: ‘Amru bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘anh melewati bangkai seekor bighol (hewan hasil persilangan kuda dengan keledai), lalu beliau berkata: “Demi Allah, salah seorang dari kalian memakan daging bangkai ini (hingga memenuhi perutnya) lebih baik baginya daripada ia memakan daging saudaranya (yang muslim) (H.R. Bukhari).

Syaikh Salim Al-Hilaly dalam kitabnya Bahjatun Nadzirin berujar “..Sesungguhnya memakan daging manusia itu sangat menjijikkan secara tabi’at untuk bani Adam, walaupun (yang dimakan tersebut) orang kafir atau musuhnya yang melawan. Bagaimana pula jika (yang engkau makan adalah) saudaramu seagama?, sesungguhnya rasa benci dan jijik semakin bertambah. Dan bagaimanakah lagi jika dalam keadaan bangkai? karena sesungguhnya makanan yang baik dan halal dimakan, akan menjadi menjijikan jika telah menjadibangkai.

Karenanyaengumbar pernyataan ke publik terutama melalui media sosial tentunya harus diiringi dengan etika jangan asal goreng, apalagi  gorengan yang berkonotasi sembarangan dan negatif, tentunya kita akan berlumuran dengan kubangan dosa disebabkan oleh pernyataan kita yang identik dengan ghibah.[]


T Lembong Misbah adalah Wakil Dekan Bidang Kerjasama dan Kemahasiswaan pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry.

No comments