Hati dan Tumor Ganas

Share:

HATI bagaikan mutiara yang memantulkan kilauan cahaya nan indah  manakala ia senantiasa dibersihkan dengan rutin. Tapi hati kadang bagaikan besi berkarat yang menebar ancaman dan menerabas keselamatan.

Hati adalah punca dari harga diri seseorang, bila hati seseorang terjaga maka akan melahirkan jiwa yang tenang dan kahlak mulia.

Ketenangan jiwa dan akhlak mulia akan memeroleh cinta Allah dan makhluk-Nya. Sebaliknya hati yang liar tidak terkontrol akan melahirkan kegersangan jiwa, muaranya akan terkumpul bermacam-macam akhlak tercela yang tidak hanya dibenci manusia tapi Allahpun menistakannya.

Allah berfirman: “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy Syam, 91: 8-10).

Hati yang kotor ibarat selokan yang tersumbat akibat dijejali tumpukan sampah, hingga ketika musim hujan tiba akan menghambat laju aliran  air yang kemudiam menyebabkan banjir disertai dengan muntahan isinya berbau busuk yang siap meneror setiap warga dengan berbagai penyakit.

Di antara kita begitu risau, sedih dan takut manakala divonis oleh dokter dengan penyakit tumor ganas yang telah bersarang dalam tubuh kita. Biasanya dalam kondisi seperti itu seseorang akan berusaha keras untuk bisa sembuh dan rela mengorbankan apa saja termasuk seluruh harta yang dipunyai.

Hal ini sangat manusiawi karena setiap manusia dianugerahi sikap optimisme diri untuk bisa keluar dari setiap masalah yang menimpanya. Akan tetapi kadang terasa aneh penyakit hati kronis yang telah lama bersarang dalam sanubari seseorang tidak membuatnya resah dan gelisah, malahan tampak ia begitu menikmati penyakitnya itu.

Penyakit tumor ganas mungkin sekali akan merenggut nyawa pengidapnya, namun penyakit hati akan dapat merenggut ribuan bahkan jutaan nyawa orang lain.

Perang acapkali terjadi karena adanya adanya penyakit hati berupa kesombongan dan fitnah, karena itu Rasul mengingatkan bahwa fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.

Patut disadari penyakit tumor ganas barangkali lebih mudah didiagnosa, melalui alat medis modern saat ini rasanya tidak sulit menemukannya, sekalipun ia berada dalam organ yang paling kecil.

Namun demikian, sebenarnya penyakit hati lebih mudah pula dikenali dan tidak memerlukan peralatan modern nan canggih tapi cukup hanya dengan bertafakkur, mengingat diri, apakah kita suka berbohong, iri hati, dengki, ghibah, namimah, fitnah, ‘ujub dan angkuh.

Periksa pula ungkapan-ungkapan kita selama ini, apakah suka mengata-ngatai orang lain dengan ungkapan sumir yang menyakitkan orang lain seperti menyebut seseorang sangat biadab dengan alasan yang kurang jelas, memanggil orang lain dengan si tolol, menyebut diri paling hebat, suka memuji diri sendiri dan merendahkan orang lain.

Hati yang sakit biasanya berkait kelindan dengan akhlak yang rusak, jika tidak terobati maka ia semakin mengganas bagai api melahap daun kering saat kemarau.

Akan tetapi jika seseorang lekas sadar akan penyakit hati yang dideritanya, niscaya akan lebih mudah mengobatinya daripada penyakit tumor ganas.

Jangan biarkan hati berkarat dalam kubangan lumpur nista, sebab bila hati telah dikunci oleh Allah maka obatnya hanyalah kematian.

Jagalah hati agar ia terus memancarkan sinar kebaikan di alam mayapada ini. []

T. Lembong Misbah, adalah Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Dan Kerjasama, Fakultas Dakwah Dan Komunikasi UIN Ar-Raniry

No comments