Berteriak di Saat Serak


T Lembong Misbah

BERTERIAKLAH selagi kamu masih punya suara, begitulah pameo yang kerap dilontarkan oleh orang di sekeliling kita.

Pameo ini acapkali dimaknai dengan ajakan untuk menggunakan kesempatan sebaik-baiknya manakala dipercaya oleh orang lain, terutama amanah sebagai pejabat publik.

Secara harfiyah, suara serak adalah suatu gejala di mana terjadi perubahan pada suara yang menandakan adanya masalah pada pita suara.

Bila seseorang  memaksa untuk berteriak ketika pita suaranya rusak, maka tenggorokan akan terasa sakit dan perih.

Orang yang mendengarnya akan merasa resah, susah, gelisah dan geli bercampur kasihan mendengar desisan suaranya.

Karenannya bagi penderita suara serak akut sangat disarankan untuk banyak istirahat dan diam, sebab menurut ahli medis jika terus dipaksakan bersuara maka sakitnya akan terus bertambah.

Secara filosofis, berteriak adalah ketegasan dalam menyampaikan dan memperjuangkan hak-haknya sesuai dengan aturan dan Undang-undang yang berlaku, menegakka keadilan dan lain sebagainya.

Peran semacam ini, tentunya menjadi salah satu tugas utama pejabat publik. Justru itu, setiap pejabat publik yang diberi amanah sangat diharapkan untuk berteriak lantang manakala ada ketimpangan dan ketidakberesan.

Barangkali menjadi sesuatu yang aneh, manakala seorang pejabat publik hanya diam seribu bahasa saat berada di kursi empuk, dan kemudian menjadi garang saat lengser dari singgasananya.

Dalam sebuah forum, seorang mantan pejabat publik bersuara lantang, tegas dan keras dalam mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah yang ia pandang tidak sejalan dengan prinsip kebenaran dan keadilan.

Wajahnya memerah, tubuhnya tampak bergetar saat menyampaikan tentang kehidupan masyarakat yang tidak terperhatikan dengan baik.

Seorang peserta angkat tangan dan berkata “maaf pak, bagi saya sangat menarik apa yang bapak sampaikan, tapi mengapa bapak baru bicara seperti itu sekarang, dulu saat bapak menjabat sebagai pejabat publik kok diam seribu bahasa, padahal dulu bapak punya kesempatan dan kewenangan untuk melakukan apa yang bapak soroti tadi, apa bapak dulu tidur, atau buta menyaksikan ketidakadilan ketika itu?"

Pernyataan peserta tersebut membuat suasana hening, sang mantan pejabat publik kikuk dan serba salah.

Kemudian, seorang peserta lainnya menimpuki, “pak, simpan saja suaranya di lemari kaca, kami tahu bapak bicara seperti itu sekarang karena bapak tidak lagi bisa menikmati fasilitas seperti yang bapak dapatkan sebelumnya,"

Kontan, suasana forum menjadi gaduh, untung moderator cepat tanggap hingga akhirnya bisa menenangkan peserta dengan baik.

Bila dilihat dari kronologis kejadian, terlihat jelas sebenarnya peserta bukan tidak suka dengan apa yang disampaikan oleh mantan pejabat publik di atas, tetapi lebih pada pribadi sang mantan yang dianggap sebagai pahlawan kesiangan, ingin menerkam ketika taring telah rontok, ingin terbang saat sayap telah patah.

Suaranya tentu saja sama dengan orang berteriak saat pita suaranya sudah rusak. Apalagi mantan pejabat publik ini disinyalir banyak pula berselingkuh dengan para kontraktor, kolega, dan siapa saja yang dipandang memberi keuntungan padanya.

Sepatutnya setiap kita mengaca diri sebelum mengatakan diri kita baik dan benar, jujurlah pada pantulan kaca.

Janganlah meludah ke atas langit yang kemudian terpercik muka sendiri. Karena itu, berkatalah yang baik kata Rasulullah, jika tidak bisa berkata baik maka sebaiknya diam.  Sebab perkataan yang tidak baik hanya membisingkan telinga pendengarnya, dan menimbulkan ketidaknyamanan.[]

[T. Lembong Misbah, adalah Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Dan Kerjasama, Fakultas Dakwah Dan Komunikasi UIN Ar-Raniry]

Berteriak di Saat Serak Berteriak di Saat Serak Reviewed by WASATHA on Agustus 24, 2018 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.