Menjaga Fitrah Diri

Share:
T Lembong Misbah

ESENSI hari Raya Idul Fitri adalah kembalinya insan beriman pada fitrah dirinya sebagai manusia yang ditugaskan sebagai khalifah di bumi, mengatur tatanan kehidupan sosial masyarakat menjadi baldatun thayyibatun wa rabbul ghafur.

Karena banyak orang yang casingnya manusia tapi isi dalamnya “setan” dan “binatang” yang kerjanya hanya membuat kerusakan di muka bumi ini.

Dari segi bahasa, kata fitrah terambil dari akar kata al-fathr yang berarti belahan, dan dari makna ini lahir makna-makna lain antara lain “penciptaan” atau “kejadian”.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, fitrah diartikan dengan sifat asal; kesucian; bakat; pembawaan.

Jadi fitrah manusia adalah sifat-sifat dasar yang telah disematkan sejak awal mula kejadiannya atau bawaan sejak lahir.

Al-Qur’an mengungkapkan  beberapa sifat dasar manusia yaitu: Pertama, Beriman kepada Allah, Firman-Nya:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus ; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. (Q.S. Ar-Rum [3] : 30).

Dalam ayat lain: “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. (Q.S. Ali-Amam [6] : 79).

Kedua, memiliki kecenderungan hanif, lurus, dan mencintai kebaikan. Firman-Nya: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. ( QS An Nahl [16]: 120).

Ketiga, Makhluk berakal dan berpikir: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Keempat, dibekali dengan cinta dan kasih sayang: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. (QS Maryam : [19]:  96).

Fitrah di atas sejatinya menjadi potensi utama manusia dalam menapaki perjalanan hidupnya, agar tidak berubah menjadi “setan” atau “binatang”, sebab Allah dengan segala Rahman dan Rahim-Nya menunjukkan jalan terbaik melalui al-Qur’an.

Karenanya jika manusia menjaga fitrah dirinya dengan cara beriman yang benar tidak menyekutukannya, patuh kepada Allah-menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, menggunakan akal pikirannya untuk  kebaikan manusia, dan senantiasa menebar kasih sayang antar sesama manusia, maka seseorang akan menjumpai dirinya sebagai manusia paripurna lahir dan batin.

[T Lembong Misbah, adalah Ketua Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, Banda Aceh]


No comments