Menggamit Kasih Sayang Allah

Share:
T Lembong Misbah 

SETIAP manusia dibekali perasaan kasih dan sayang, rasanya tanpa perangkat ini manusia akan sulit menjalankan hidupnya secara normal.

Banyak orang galau dan putus asa malahan sampai ada yang bunuh diri manakala orang yang disayanginya ternyata mendua cinta.

Katakanlah seperti seorang pemuda Bireuen, Dani 24 tahun rela gantung diri gara-gara cintanya ditolak oleh gadis idamannya.

Kejadian lain di Aceh Tengah beberapa tahun silam, dimana sepasang kekasih rela gantung diri secara bersamaan di pokok pohon ketika jalinan cinta mereka menemui jalan buntu, karena hubungan keduanya tak direstui oleh orang tua.

Demikian pula kisah temanku saat tsunami 2004 yang lalu, ia rela menerjang dahsyatnya gelombang ie beuna yang menggulung, demi menyelamatkan anak dan istrinya yang sangat ia cintai kala itu berada di daerah Kajhu.

Sekalipun nyawa sebagai taruhannya tapi tak sedikitpun menciutkan nyalinya sampai kemudian ia syahid dalam asa gulungan kasih sayangnya.

Cuplikan kasus di atas menandakan betapa cinta dan kasih sayang adalah energi yang tak terbendung dan begitu amat berharga dalam kehidupan manusia, sehingga untuk mendapatkannya manusia rela mengorbankan apa saja termasuk nyawa sekalipun.

Tapi kadang patut disayangkan hal tersebut tidak berimbang dengan kesediaan kita untuk menggamit kasih sayang Allah, padahal mendapatkan kasih sayang Allah lebih dahsyat dari sekedar cintanya manusia.

Ketidakseimbangan di atas kerap disebabkan oleh  ketidaktahuan seseorang dalam mengenali kasih sayang Allah, boleh jadi disebabkan oleh gumpalan debu-debu hati yang menutupi mutiara kasih sayang Allah.

“Sungguh beruntung orang-orang yang menyucikan jiwanya dan sangat merugi orang-orang yang mengotorinya”.

Sejatinya manusia tahu bahwa kasih sayang Allah tak terbatas pada hambanya, Allah berfirman: "Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." (Q.S al-Baqarah: 163).

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S. ali-Imran:  31).

Rabiah al-Adawiyah seorang wanita sufi merasakan betapa lezatnya cinta dan kasih sayang Allah, baginya syurga dan neraka bukanlah sesuatu yang penting namun yang terpenting dalam hidupnya membalas sepenuh hati-kasih sayang yang Allah berikan kepadanya.

Bulan Ramadhan adalah bulan kasih sayang Allah, semua keutamaan dan keberkahan diturunkan di bulan ini.

Uluran kasih sayang Allah ini tentunya begitu naif jika kita abaikan begitu saja. RehatKarenanya  Sabda Rasulullah, Celakalah orang-orang yang memasuki bulan ramadhan akan tetapi dosa-dosanya tidak diampuni.

Karena itu, jika kita bersemangat dan rela mengorbankan apa saja yang kita punyai untuk meraih kasih sayang orang yang kita cintai, maka sungguh bodohlah rasanya jika kita enggan menggamit kasih sayang Allah.

Sambutlah uluran uluran kasih sayang Allah di bulan Ramadhan ini engkau tidak mau dicap sebagai manusia yang celaka. []
**

T Lembong Misbah, adalah Ketua Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, Banda Aceh]

Artikel Terkait:
Memelototi Mata Harimau


No comments