Ads Header

Breaking News

Banda Aceh Gemilang, Refleksi HUT ke-813 Tahun


Muhammad Syarif,SHI,.M.H

FRAMING Banda Aceh Gemilang dalam bingkai Syariat, bukan hanya sebatas jargon, akan tetapi telah diterjemahkan secara kongkrit oleh Walikota, H Aminullah Usman dan Zainal Arifin dalam dokumen RPJMD periode 2017-2022.

Dua tokoh yang  berbeda latar belakang ini, menjadi episentrum dan energi baru Kutaraja. Aminullah Usman yang berlatar belakang tokoh Perbankan Aceh dan Zainal Arifin, Politisi, sekaligus mantan Anggota DPRA dua periode, diyakini mampu melanjutkan tradisi birokrasi menuju kebangkitan dan kejayaan Kutaraja.

Banda Aceh yang lahir sejak 22 April 1205 M, telah dikenal sebagai Pusat Pemerintahan Aceh yang mashur kala itu. Merujuk pada tulisan Rusdi Sufi dan Agus Budi Wibowo tahun 2006 tentang Kerajaan Aceh Darussalam mengatakan, kemunculan Kesultanan Aceh Darussalam yang beribukota di Banda Aceh ini tidak lepas dari eksistensi Kerajaan Islam Lamuri.

Salah seorang sultan yang terkenal dari Kerajaan Islam Lamuri adalah Sultan Munawwar Syah. Sultan inilah yang kemudian dianggap sebagai moyangnya Sultan Aceh Darussalam yang terhebat, yakni Sultan Iskandar Muda.

Akhir abad ke-15 pusat singgasana Kerajaan Lamuri dipindahkan ke Meukuta Alam, Banda Aceh sekarang. Sementara mengenai Lamuri atau sebagian ada yang mengatakan Lam Urik, saat ini terletak di kawasan Aceh Besar. 

Merujuk pada catatan Dr. N. A. Baloch dan Dr. Lance Castle, yang dimaksud dengan Lamuri yaitu Lamreh di Pelabuhan Malahayati (Krueng Raya sekarang). Jejak kerajaan ini kembali ditemukan saat ini di perbukitan Lamreh.

Dari catatan tersebut, diketahui istananya dibangun di tepi Kuala Naga (kemudian menjadi Krueng Aceh) di Kampung Pande atau sering disebut dengan "Kandang Aceh". 

Masa pemerintahan Sultan Alaidin Mahmud Syah, istana Kerajaan Aceh dibangun ulang di seberang Kuala Naga (Krueng Aceh) dengan nama Kuta Dalam Darud Dunia (dalam kawasan Meuligoe Aceh atau Pendopo Gubernur sekarang). 

Selain itu, beliau juga mendirikan Masjid Raya Baiturrahman pada tahun 691 H. Banda Aceh Darussalam dijadikan sebagai ibukota Kerajaan Aceh Darussalam dan sekarang ini merupakan ibukota Aceh.

Banda Aceh yang merupakan ibu kota Provinsi Aceh yang tidak jarang dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Saat ini Banda Aceh dikenal kota “Zikir”. Tradisi Zikir yang digagas oleh Bapak Walikota Banda Aceh, H. Aminullah Usman dan Wakil Walikota Banda Aceh, Zainal Arifin, semakin menggema “bansigoem donya”

Berbagai terobosan terus dilakukan terutama aspek pelayanan publik, pendidikan, keagamaan, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi.

Langkah-langkah strategis dan taktis terus dilakukan, guna mewujudkan mimpinya. Banda Aceh Gemilang dalam bingkai syari`ah adalah “Ijtihad birokrasinya”. Tentu membangun negeri tidak semudah menyulap, sim salaben abra kadabra. Butuh proses dan komitmen bersama.

Selaku ASN yang terus mempelajari gestur dan ijtihad birokrasinya. Sepertinya dua tokoh ini, telah menemukan panggung utamanya. Tinggal waktu yang menentukan. Mal Pelayanan Publik, Santunan Kematian, pengurangan angka kemiskinan, pemenuhan air bersih menjadi target awal yang harus dibenahi. 

Krue semangat. Tepatnya 22 April 2018, saya ucapkan selamat ulang tahun Kota Banda Aceh ke-813. “Saya Cinta Banda Aceh”. Teruslah berkarya demi kejayaan negeri endatu.

*Penulis adalah Dosen FSH UIN Ar-Raniry/ Kabid SDM dan Manajemen Disdik Dayah Banda Aceh


Tidak ada komentar