Umat Islam Kuat Jika Ikhlas Beramal

Share:



IKHLAS adalah suatu sikap terpuji yang harus dimiliki oleh setiap muslim yaitu suatu perbuatan dan perkataan yang semata-mata diniatkan untuk mencapai keridhaan Allah SWT.

Orang yang memiliki sikap perilaku ikhlas karena Allah, ia tidak akan pernah merasa berat dalam menjalankan setiap tugas dan pekerjaan, bahkan menjadi sumber kekuatan yang tak terkira bagi seorang muslim karena dengan ikhlas tersebut ia akan selalu dekat dan mendapat pertolongan-Nya.

Sebab sikap jiwa ikhlas dapat meringankan beban dan perasaan berat dalam mengerjakan suatu perbuatan. Suatu perbuatan yang dilakukan tanpa keikhlasan, tidak akan mendatangkan kebaikan, baik bagi pelakunya maupun bagi pihak lain yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut.

Demikian antara lain disampaikan Tgk. Akmal Abzal S.HI, Wakil Ketua Badan Koordinasi Mubaligh Indonesia (Bakomubin) Aceh saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu (31/1) malam.

"Allah SWT menyerukan kepada kita untuk selalu ikhlas dalam beramal hanya semata-mata karena-Nya, bukan karena yang lain khususnya dalam beribadat kepada Allah. Dengan ikhlas amal ibadah kita diterima, juga membuat kita kuat dalam menghadapi musuh-musuh Islam," ujar Tgk Akmal.

Dijelaskannya, dalam Alquran sangat banyak dijelaskan dalil-dalil keutamaan ikhlas‎, diantaranya dalam Surat Az Zumar ayat 11, "Katakanlah, sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah secara ikhlas dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama".

Kemudian dalam Surat Al Bayyinah ayat 5, "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah secara ikhlas sebagai ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus"

menurutnya, perkara hidup dalam agama dan hidup sesuai ajaran Islam hanya terbagi pada dua hal, dan keduanya membutuh keikhlasan dalam menjalankannya,‎

Pertama, perkara sesuatu yang datang dari Allah diberikan kepada hamba-Nya, seperti kaya/miskin, sakit/sehat, ada jabatan/non job, senang/musibah, dan semua pemberian itu harus diterima dengan ikhlas.

Kedua, perkara atau perbuatan hamba yang akan kembali kepada Allah yaitu segala bentuk amal ibadah saat hidup di dunia juga harus dilakukan dengan penuh keikhlasan semata-mata karena perintah Allah sebagai bentuk ketaatan seorang hamba.

Disebutkannya, ‎Imam Al-Ghazali mengartikan ikhlas itu, tiap sesuatu amalan yang steril dari orientasi, maksud atau kepentingan selain dari kepentingan Allah. 

Karena biasanya, ada tiga unsur yang ditemukan dalam dalam‎ amalan yang sering dilakukan oleh manusia. 

Pertama, perbuatan riya' yakni amalan yang semata-mata berkehendak dunia dan ini kosong dari pahala. Kedua, perbuatan ikhlas, yakni amalan yang semata-mata karena Allah, dan ketiga‎, perbuatan yang bercampur antara riya dan 'ajib yaitu berkeinginan amalan menjadi perekat hati dengan Allah, namun pada saat yang bersamaan juga tidak bisa melepaskan hati dari keinginan lain selain Allah, seperti ingin mendapatkan manfaat dari ibadah yang dilakukan.

Seperti, berpuasa dengan bercampur niat untuk mendapat manfaat sehat atau dari hal yang dipantanginya, juga karena kesusahan memakan makanan, dan lainnya. Mengerjakan ibadah haji yang bertambah niat untuk menyehatkan tubuh dengan gerakan perjalanan, atau untuk menjauhi kebiasaan buruk di kampung, juga karena menghindar dari musuh yag sering menyakiti, atau niat sambil berniaga.

Kemudian, melakukan shalat malam sambil berniat berjaga, mengawal barang dari pencuri (ronda),‎ i'tikaf di masjid lantaran jenuh di rumah akibat kebisingan keluarga, bersedekah karena ingin menolak fakir yang berhenti dan berlama-lama di depan kita.

Menuntut ilmu berkehendak dimudahkan rezekinya, atau menghindar dari kawan-kawan zalim, atau untuk ingin lebih mulia diantara sahabatnya, serta berziarah atau mengunjungi orang sakit atau meninggal berharap dibalas.

"Semua hal tersebut, tak membatalkan pahalanya. Tetapi mengurangi pahala dan ini menghilangkan potensi ikhlas dalam ibadah. Imam Ghzali dalam Ihya Ulumuddinnya berpesan, esensi ibadah adalah Taqarrub Ilallah, maka hendaknya sampai pada tujuan tersebut dan tidak dikudeta pahala kita oleh orientasi selain Allah," ungkap mantan Sekjen Rabithah Thaliban Aceh ini..

Ikhlas adalah perkara hati yang faktual-nya terdeskripsikan dalam kerakter dan tindakan, maka ikhlaslah memberi tak mengharap balasan. Beramal tak memandang imbalan, dan teruslah berdedikasi dengan segenap SDM yang ada kendati belum mendapat porsi balasan yang sama. 

Orang-orang tua kita dulu kita kenang bukan semata karena terlahir menjadi orang kaya dan publik figur, namun berangkat dari segenap perjuangan dan pengorbanan ikhlas mereka. Hingga hari ini mereka tetap harum dan mulia. Seperti ikhlasnya para orang tua kita dalam melahirkan, membesar dan mendidik anaknya.

Ikhlasnya seorang guru dalam mengedukasi para murid dengan latar belakang yang tak sama, juga ikhlas para nabi, rasul, sahabat dan ulama dalam mengembankan tugas mulia, kendati harta, keluarga bahkan jiwa menjadi taruhan.

‎Perilaku seperti ini mesti dipertahankan atau dibentuk kembali untuk muslim-muslim sejati menyongsong perkembangan masa dan kemajuan global. 

"Kita butuh generasi yang gemar berbuat tapi sedikit selfi dan promosi. Kita mengimpikan pejuang-pejuang agama dan bangsa yag berkenan mewaqafkan harta, tenaga bahkan jiwa dengan steril dari kepentingan politik sesaat," tegasnya.

Ditambahkannya, meskipun tidak mudah, ikhlas ini bisa muncul dengan sendirinya jika terus dibiasakan, yang mungkin pada awalnya dimulai pelan-pelan dari suka pamer dan riya hingga timbul ikhlas.