Wajib Anda Ketahui, Ini Kesederhanaan dan Keunikan Desa Lambaro Angan

Foto: Google Maps Desa Lambaro Angan

BERBICARA mengenai pedesaan, maka alam, budaya, religi dan banyak hal lainnya yang bisa menjadi aspek yang perlu dieksplor.

Begitu pula di Lambaro Angan, sebuah kampung yang memiliki topografi wilayah persawahan. Bahkan ketika kita berada di penghujung kampung, kita dapat menyaksikan hamparan sawah luas nan indah.

Desa Lambaro Angan terletak di kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar, Provonsi Aceh. Desa ini dengan jarak 4 KM dari pusat kecamatan. Desa ini dikenal dengan sosial yang masih sangat kental dan keakraban sesama warga bahkan dengan kampung tetangga sangat dijaga.

1.     Keindahan Bukit Cot Ma A

Di desa ini juga terdapat bukit yang disebut dengan “Cot Ma A”. Keindahan yang luar biasa seakan seperti permandani yang terlerai di istana raja. Begitulah yang dapat kita saksikan dari atas bukit Cot Ma A.

Dari atas bukit kita dapat meilihat tanaman padi yang tumbuh subur, hamparan sawah yang luas akan terlihat berbaris rapi dan memanjakan mata. Selain hamparan padi, kita dapat melihat deretan pohon asam jawa yang terletak di bukit dengan usianya mungkin sudah dari jaman Belanda dulu.

Sebagai desa yang terletak jauh dari pusat ibu kota, mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani menyebabkan kehidupan masyarakatnya masih relatif sederhana. kesederhanaan itu terlihat dari kebiasaan yang masih sering dilakukan seperti “kenduri Tgk. Pu’uk”, “kenduri blang”,woet kanji” (buat kolak).

2.     Kenduri Tgk. Pu’uk

Kenduri Tgk Pu’uk merupakan salah satu kegiatan adat masyarakat Lambaro Angan, yang dilaksanakan setiap tahun  disaat masyarakat hendak memulai turun membajak sawah.

Maka sebelum pembajakan para petani melakukan kenduri Tgk Pu’uk sebagai pertanda syukur kepada Allah Swt. Masyarakat membawa makanan mentah dan masak bersama disana. Setelah makanan dihidangkan, mereka duduk berkumpul laksana seperti bulatan lingkaran disamping makam Tgk Di Pu’uk untuk doa bersama yang dipimpim oleh Imum Chiek gampong.

Selesai doa baru mereka melakukan makan bersama. Nasi yang berbungkus daun pisang terasa sangat maknyus dipadu dengan lauk ayam kampung atau bebek, yang berbumbu khas Aceh.

3.     Kenduri Blang

Foto: Kenduri Blang | Acehkita

Selain kenduri Tgk Pu’uk juga ada kenduri Blang. Kenduri ini dilaksanakan ketika padi sudah tumbuh subur nan hijau. Setiap keluarga petani memasak didekat persawahan masing-masing dan mengundang beberapa saudara atau kerabatnya.

Mereka melakukan makan bersama disana. setiap keluarga mewakili satu orang laki-laki untuk membawa sedikit masakannya ke balee blang. Di balee blang sudah ada panitia yang menerima dan mengatur rantangan yang dibawa.

Selain warga kampung juga ada di undang beberapa orang dari kantor camat, polsek dan juga dari kantor pertanian. Acara ini biasanya dilakukan pada siang hari dengan di awali doa bersama dan diakhiri dengan makan bersama.

Walaupun masakan yang dihidangkan sangat sederhana, tetapi kenikmatannya terasa sangat luar biasa. Terdengar senda gurau sesekali sambil mengunyah paha bebek yang lezat menggambarkan kebahagian si petani yang luar biasa.

Perkampungan memang identik dikenal banyak melakukan acara kenduri. Ini semua terjadi karena sosial yang masih sangat tinggi.

4.     Kegiatan Woet Kanji

Foto: Woet Kanji (Masak Bubur) | Mudanews

Sementara itu, setiap penghujung tahun ibu-ibu sudah mulai membahas waktu yang tepat melakukan acara “woet kanji”. Biasanya acara ini dilakukan pada hari senin atau kamis.

Ibu-ibu berkumpul di salah satu lorong di kampung dengan membawa perlengkapan yang diperlukan, seperti kuali, beras, santan, gula, air, dan beberapa alat lain yang dibutuhkan.

Dipinggir jalan itulah mereka memasak kanji, dengan asap dari bakaran ranting-ranting terlihat kanji itu menggugah selera. Setiap yang lalui jalan tersebut akan disuruh singgah dan mencicipi kanji hasil masakan mereka. Ibu-ibu ini tidak pindah sebelum kanji itu habis. Ini merupakan salah satu aktifitas ibu-ibu setiap penghujung tahun. Biasanya yang paling bersemangat memeriahkan acara ini adalah ibu-ibu lansia.

5.     Permainan Tradisional

Foto: Panjat Pinang | Kompas

Lambaro Angan juga masih melestarikan permainan tradisional seperti manjat pinang, yang merupakan permainan ekstrim yang dimainkan oleh beberapa kelompok orang. Mereka bekerjasama untuk memperebutkan hadiah yang di pasang di atas pohon pinang. Pohon pinang yang dipasang memiliki tinggi 10 hinggi 15 meter.

Permainan ini biasanya diadakan ketika acara tujuh belasan dan sangat menarik perhatian masyarakat Lambaro Angan.

Kesederhanaan ini telah menjadi sorotan Darwati A. Gani istri dari Gubernur Aceh Irwandi Yusuf . Darwati tertarik dengan aktifitas masyarakat Lambaro Angan di bagian pertanian.

Foto: Darwati A Gani Bersama petani Lambaro Angan

Selain sebagai petani padi, masyarakat Lambaro Angan juga mencari nafkah dibagian menanam sayur-mayur. Ada yang menanam kangkung, sawi, bayam, bawang dan beberapa sayuran lain.

Kedatangan Istri Gubernur Aceh ini pertama kali dengan membawa progam “Tanam Padi Berbasis Organik” pada tahun 2017 bagaikan membawa sinar penerangan bagi petani Lambaro Angan.

Program ini berhasil dilaksanakan dengan mendapat dukungan yang luar biasa dari masyarakat. Kegigihan dan keinginan berhasilnya para petani sangat mendukung program ini berjalan dengan lancar

Di bagian sayur mayur juga tak mau kalah, Darwati A. Gani membentuk kelompok penanaman bawang dan ia membantu semua peralatan yang dibutuhkan untuk penanaman bawang, baik dari bibit bawang, pompa air, kawat pagar, pengolahan pupuk, dan lain sebagainya.

Program ini dibuat guna untuk mensejahterakan masyarakat menengah kebawah yang punya tekad dan usaha tetapi tidak mempunyai modal. Program yang baru dibentuk ini pasti akan berjalan lancar dengan dukungannya.

Itulah ulasan sedikit mengenai Desa Lambaro Angan. Kampung yang penuh dengan kesederhana, keakraban dan sosial yang tinggi. Terasa begitu tentram ketika jasad dan jiwa berada disini. Kampung halamanku dan juga semoga menjadi kampung masa depanku. Walaupun berstatus petani tapi itu sangat membahagiakan kami. Aman nan damai dapat dirasakan disini. [Ratna Sari]


            
Share on Google Plus

About Teuku Emy Kurniawan

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.