Waspada! Musuh Bebuyutan Terus Mengintaimu

Share:

SEJAK zaman Nabi Adam, Iblis selalu berupaya mencelakakan manusia. Berbagai cara dilakukan agar manusia terjerumus dalam perbuatan maksiat yang pada akhirnya akan mencelakakannya. Iblis dan setan merupakan musuh besar bagi umat manusia yang akan terus berusaha untuk menyesatkan manusia.
Hal itu ditunjukkan dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala:
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” [QS. Fathir: 6]
Iblis diberi kesempatan hingga hari kiamat untuk terus menggoda manusia seperti yang disebut dalam ayat berikut:
“Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.” Iblis berkata: “Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.” Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat).” Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” [QS. Shaad: 77-83]
Tentang bagaimana setan menggoda manusia untuk menjerumuskan ke dalam kemaksiatan dan kehinaan, Ibnul Qayyim dalam kitabnya Badai’ul Fawaid memberikan penjelasan. Setidaknya setan menggunakan enam cara untuk menjebak manusia, yakni:
Setan mengajak manusia pada kekafiran, perbuatan syirik dan memusuhi Allah serta Rasul-Nya.
Pertama, langkah pertama yang ditempuh oleh setan. Setan akan terus menggoda manusia agar bisa terjerumus dalam dosa pertama ini. Jika telah berhasil, pasukan dan bala tentara iblis akan diangkat posisinya menjadi pengganti iblis.
Maka saat zaman ini telah maju dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat, tetapi banyak manusia yang hidupnya penuh dengan kesyirikan. Masih banyak yang kepercayaannya animisme bahkan terus berkembang dan dipertahankan. Takhayul dan khurafat juga tetap tumbuh subur. Itu semua yang setan incar pertama kali lakukan agar akidah kaum muslimin rusak.
Kedua, setan mengajak manusia pada perbuatan yang tidak diperintahkan oleh syariat dan tidak dicontohkan pula oleh Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, yaki perbuatan bid’ah.
Cara yang kedua ini dilakukan setan jika cara yang pertama tidak berhasil. Maka tidak mengherankan jika saat ini masih terus tumbuh subur pengamalan yang dianggapnya sebagai ibadah, padahal sama sekali tidak pernah ditemukan petunjuk syariat dan contoh dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam.
Perbuatan bid’ah lebih disukai oleh iblis daripada dosa besar atau pun maksiat lainnya. Karena bahaya bid’ah itu sangat besar. Yakni, membahayakan agama seseorang, membahayakan orang lain karena jadi ikut-ikutan berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunan.
Orang yang berbuat bid’ah akan sulit sadar untuk taubat karena ia merasa amalannya selalu benar. Perbuatan bid’ah itu menyelisihi ajaran Rasul dan selalu mengajak untuk menyelisihi ajaran beliau.
Setan yang menggoda seperti ini pun juga akan diangkat sebagai pembantu iblis jika telah berhasil menyesatkan manusia dalam hal ini.
Ketiga, setan akan mengajak manusia untuk melakukan perbuatan dosa besar (al-kabair).
Kalau langkah kedua tidak berhasil, setan akan mengajak manusia untuk melakukan dosa besar, seperti berjudi, mabuk, berzina dan lainnya. Terlebih jika ia adalah seorang berilmu dan diikuti orang banyak.
Setan lebih semangat untuk menyesatkan orang yang berilmu dengan tujuan membuat manusia menjauh darinya. Setan yang berhasil menyesatkan manusia dalam hal ini, dialah yang nanti akan menjadi pengganti iblis.
Keempat, setan mengajak manusia untuk melukan perbuatan dosa kecil (ash-shaghair). Jika setan gagal menjerumuskan dalam dosa besar, setan tidak putus asa, bahkan akan mengajak manusia pada dosa kecil.
Dosa kecil ini juga berbahaya, sebagaimana disebutkan dalam hadits “Jauhilah oleh kalian dosa-dosa kecil. (Karena perumpamaan hal tersebut adalah) seperti satu kaum yang singgah di satu lembah, lalu datanglah seseorang demi seorang membawa kayu sehingga masaklah roti mereka dengan itu. Sesungguhnya dosa-dosa kecil itu ketika akan diambil pemiliknya, maka ia akan membinasakannya.” (HR. Ahmad)
Seperti ditunjukkan pada hadits di atas, jika dosa kecil terus menumpuk dan tidak terhapus, maka dosa kecil akan membinasakan dirinya. Di sini tidak disebutkan dosa besar karena jarang terjadi di masa silam dan dosa besar biasanya benar-benar dijaga agar tidak terjerumus di dalamnya. Demikian sebagaimana dijelaskan oleh Al-Munawi.
Sementara Al-Ghazali menyebutkan, bahwa dosa kecil lama-lama akan menjadi besar. Sebab menganggap remeh dosa kecil tersebut, terus menerus dalam berbuat dosa. Karena itu ingatlah yang namanya dosa ketika seseorang menganggap itu begitu besar (berbahaya), menjadi kecil di sisi Allah. Sebaliknya, ketika dosa itu dianggap remeh, maka menjadi besar di sisi Allah. (Faidh Al-Qadir)
Kelima, setan akan mengajak manusia untuk sibuk dengan perkara mubah (yang sifatnya boleh, tidak ada pahala dan tidak ada sanksi di dalamnya).
Setan melakukan cara ini karena sibuk dengan yang mubah mengakibatkan luput dari pahala, waktu yang semestinya sangat berharga akan terbuang sia-sia. Ada yang sibuk dengan makan-makan, plesiran atau touring, atau sibuk dengan permainan dan hobinya hingga lupa akan perkara yang wajib seperti shalat. Jika setan tidak mampu menggoda dalam cara yang kelima ini, maka setan beralih pada langkah berikutnya.
Keenam, setan akan menyibukkan manusia dalam amalan yang kurang afdhal (utama), padahal ada amalan yang lebih afdhal.
Jika manusia sudah menjaga waktu dengan baik, setan akan menggoda manusia supaya ia luput dari pahala amalan yang lebih utama dan ia terus tersibukkan dengan yang kurang afdhal. Contohnya, sibuk dengan ibadah, tapi malas untuk menuntut ilmu agama sehingga beribadah asal-asalan. Wallahu a’lam. [Zaenal Muttaqin | Mirajnews]