Ini Dia Tujuh Kesalahan Suami Kepada Istri

Share:
Ilustrasi Foto/NET

















DISADARI atau tidak, seringkali seorang suami merasa lebih baik dalam semua hal dibanding istrinya. Egoisme suami terkadang lebih dominan  menguasai istrinya. 

Hal itu bisa dilihat dari ketidaksiapan suami saat menerima masukan atau pendapat dari istrinya.


Padahal, di awal si suami yang meminta agar istrinya berpendapat atau memberi masukan atas suatu permasalahan. Tapi saat istrinya memberi masukan, tak sedikit suami yang tetap kekeuh mempertahankan pendapatnya sendiri. Padahal bisa jadi, pendapat istri jauh lebih baik.


Perilaku suami seperti di atas adalah bagian dari akhlak yang semestinya tidak terjadi. Tak jarang, istri merasa kecewa  karena pendapatnya ditolak oleh suami tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu.


Bahron Anshori mengurai tuntas persoalan ini di laman mirajnews.com.  Istri adalah cerminan suami. Artinya, jika istrinya melakukan kesalahan, bisa jadi karena istri tidak mendapatkan pengarahan dan nasihat kebaikan dari suaminya.


Paling tidak, ada 7 kesalahan suami kepada istrinya yang sering tak disadari. Kesalahan-kesalahan itu, antara lain sebagai berikut.


Pertama, Tidak Mengajarkan Ilmu Agama pada Istri | Salah satu bentuk ketidakpedulian seorang suami kepada istrinya adalah tidak mengajarkan ilmu agama kepada istrinya. Padahal Allah Ta’ala jauh hari telah mengingatkan agar seorang suami yang nota bene adalah pemimpin dalam rumah tangganya agar tidak hanya memelihara dirinya dari api neraka, tapi juga keluarga.


Banyak suami yang hanya membekali istri dengan uang bulanan, tapi tidak mengisi kekosongan ilmu dan ruhiyahnya. Padahal di zaman ini, penting untuk membekali diri dan keluarga dengan pemahaman Islam yang menyeluruh.


Jangan mengira ketika sudah membekali istri dengan materi berupa uang belanja dikira sudah cukup untuk menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab.


Kedua, Tidak Membantu Pekerjaan Rumah | Banyak juga suami yang enggan dan gengsi jika harus membantu mencuci piring, menyapu, mencuci baju, menjemur pakaian sekadar membantu isterinya. Padahal jika ditanya siapakah idolanya, maka dengan mantap si suami akan menjawab idolanya adalah baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.


Tapi kenyataannya, sekadar membantu menyenangkan hati isteri dengan meringankan  beban kerjanya didapur saja sulit dilakukan. Alasannya itu adalah pekerjaan seorang istri.


Jika mau menghayati tarikh, mara Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah tipe suami teladan yang gemar membantu istri-istrinya mengerjakan pekerjaan rumah.


Membantu istri di rumah adalah salah satu dari akhlak mulia dan itu sama sekali tidak merendahkan kedudukan suami, bahkan justru bertambah kemuliaan suami karenanya.


Ketika Aisyah r.a ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di rumahnya, beliau menjawab, “Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membantu pekerjaan istrinya dan jika datang waktu shalat, maka beliau pun keluar untuk shalat.” [HR. Bukhari]


Ketiga, Membenci Istri | Seringkali ada suami yang membenci istrinya. Padahal istrinya sudah seharian bersusah payah mengurus keperluan suami dan anak-anaknya.


Suami yang membenci istrinya adalah suami yang tidak menjadikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai teladan dalam hidupnya.


Padahal, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda, “Janganlah seorang suami yang beriman membenci istrinya yang beriman. Jika dia tidak menyukai satu akhlak darinya, dia pasti meridhai akhlak lain darinya.” [HR. Muslim]


Ada pula suami yang justru membenci istri yang dinikahinya. Mendiamkan istri, dan memandang semua yang dilakukan istrinya salah. Sungguh ini adalah kesalahan fatal para suami yang tidak bisa bersabar. Jika terus-menerus dibiarkan, akan memperburuk kondisi rumah tangga.


Keempat, Menyebarluaskan Aib Istri | Tak sedikit suami yang pergaulannya buruk lalu menceritaan aib istrinya sendiri di hadapan teman-temannya seperti membicarakan aktivitas suami-istri sebagai sebuah mainan. Padahal Allah Ta’ala sudah menutup mereka, tapi malah ia buka sendiri.


Allah sangat membenci seorang suami yang menceritakan aibistrinya di hadapan orang lain. Selain itu, ia telah membuat kedudukannya rendah di hadapan Allah.


Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya di antara orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seseorang yang menggauli istrinya danistrinya menggaulinya kemudian dia menyebarkan rahasia-rahasia istrinya.”  [HR. Muslim]


Kelima, Memukul Istri | Para suami dilarang untuk memukul istri, jikalau pun isteri melakukan kesalahan yang melanggar aturan Allah, tetap tidak boleh memukulnya di wajah.


Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Hendaklah engkau memberinya makan jika engkau makan, memberinya pakaian jika engkau berpakaian, tidak memukul wajah, tidak menjelek-jelekkannya…..” [HR. Ibnu Majah disahihkan oleh Syeikh Albani]


Memukul istri adalah sebuah keburukan bagi seorang suami shalih. Bagaimana mungkin ia tega memukul belahan jiwanya sendiri.


Keenam, Tidak menafkahi Istri dan Anak | Tidak sedikit suami yang sengaja mengabaikan nafkah untuk isternya. Akibat suami tidak menafkahi isterinya ini, maka tak heran begitu banyak isteri yang memutuskan dengan sengaja untuk keluar rumah mencari nafkah sendiri.


Keluar rumah meninggalkan fitrahnya sebagai ibu rumah tangga. Padahal kehormatan seorang suami di hadapan istrinya adalah karena kegigihannya dalam mencari nafkah untuk istrinya.


Ketujuh, Tidak Cemburu | Kesalahan lainnya yang sering tidak diperhatikan adalah, suami tidak merasa cemburu terhadap istrinya. Bahkan di kalangan selebritis, para perempuan bersolek dan cium pipi kanan kiri dengan pria lain (ajnabi) atau fansnya seolah sudah biasa.


Camkan ancaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam terhadap lelaki yang tidak memiliki kecemburuan terhadap keluarga (istri). 


“Tiga golongan yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan melihat mereka pada hari kiamat yaitu seseorang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang menyerupai lelaki dan ad-Dayyuts.” [HR. An-Nasa’i dinilai ‘hasan’ oleh syeikh Albani, lihat ash-Shahihah : 674]


Ada yang menanyakan apakah ad-Dayyuts (dayus) itu? Dayus adalah lelaki atau suami yang tidak memiliki kecemburuan terhadap keluarganya.


Jadi, mari berlomba menjadi suami yang shalih agar menjadi teladan bagi istri, shalih agar mampu membagi ilmu kepada isteri dan membimbingnya menjadi bidadari-bidadari dunia yang shalihah. (*)